Cakrawalanews.co Pemerintah Kota Surabaya secara resmi menggandeng berbagai perguruan tinggi untuk merumuskan strategi jitu dalam menekan tingkat pengangguran terbuka sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026.
Kolaborasi ini merupakan bagian dari implementasi konsep pentahelix guna mewujudkan visi Surabaya 2025–2029 sebagai kota dunia yang maju, humanis, dan berkelanjutan.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menegaskan bahwa peran akademisi sangat strategis dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi ke depan, terutama dalam mendukung target nasional mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Dalam kajian bersama Tim Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah (TP2ID) dan Badan Pusat Statistik (BPS), teridentifikasi bahwa tantangan ekonomi Surabaya tidaklah tunggal.
Selain angka pengangguran, optimalisasi ekonomi level mikro di wilayah perkampungan menjadi fokus utama agar dapat berkembang lebih pesat. Hal ini sejalan dengan ambisi besar pemerintah pusat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Data capaian pembangunan menunjukkan tren positif yang menjadi modal kuat bagi Surabaya. Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, mengungkapkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya pada 2025 telah mencapai angka 85,65, sementara angka kemiskinan berhasil ditekan menjadi 3,56 persen.
Tingkat pengangguran terbuka juga mengalami penurunan secara konsisten hingga menyentuh angka 4,84 persen pada tahun 2025, yang dibarengi dengan peningkatan nilai investasi dan pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 5,76 persen.
Memasuki tahun 2026, Pemkot Surabaya telah menetapkan target makro yang lebih optimis, termasuk menurunkan tingkat pengangguran hingga 4,47 persen dan mendorong pertumbuhan ekonomi ke angka 5,80 persen.
Strategi utama yang disiapkan mencakup penguatan sinergi sumber daya manusia dan inkubasi bisnis. Dalam skema ini, perguruan tinggi berperan sebagai pembina kualitas SDM kreatif, khususnya bagi generasi Z, sementara pemerintah kota menyediakan ekosistem pendukung melalui pelatihan, akses pembiayaan, serta infrastruktur ekonomi kreatif yang memadai.( wa/at)














