Terungkap, Alasan Pengusaha Indonesia Lebih Suka Simpan Uang di Singapura dan Swiss

Februari 8, 2019
  59 views 0

Jakarta, cakrawalanews.co – Banyak pengusaha Indonesia memilih menyimpan uang mereka di luar negeri, seperti Swiss, Hongkong dan Singapura. Pada 2016 lalu, Presiden Jokowi menyebut ada uang simpanan para pengusaha Indonesia di luar negeri sebanyak Rp 11.000 triliun.

Agar uang-uang para pengusaha itu “kembali” ke Indonesia, pemerintah akhirnya mengesahkan UU Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty. Program pengampunan pajak (Tax Amnesty) yang dicanangkan pemerintah ini mampu menjaring ratusan ribu wajib pajak dan memancing triliun dana pulang kampung ke Indonesia.

Lalu, apa alasan para pengusaha Indonesia menyimpan uang mereka di Bank Swiss, Singapura dan negara lain:

1. Keamanan Lebih Ketat

Swiss adalah salah satu tujuan penyimpanan uang para pengusaha. Negara ini dinilai paling aman untuk menyimpan aset termasuk menjamin kerahasiaan data pemilik dana. Bahkan uang hasil kejahatan.

Direktur Advokasi Pusat Kajian Anti korupsi Universitas Gadjah Mada, Oce Madril waktu itu mengatakan Swiss memiliki sistem perbankan yang sangat ketat. Saking ketatnya sistem perbankan Swiss, Oce menduga nilai aset warga negara Indonesia yang tersimpan di sana sangat besar.

2. Tarif Pajak Rendah

Selain masalah keamanan, tarif pajak yang ditawarkan oleh Swiss maupun Singapura relatif rendah. Pengamat Perpajakan Universitas Indonesia (UI), Ruston Tambunan mengatakan negara-negara tersebut menawarkan tarif pajak rendah, bahkan sampai nol persen.

Pada 2015 lalu, tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan di Singapura hanya sebesar 17 persen, Hongkong 16,5 persen, Swiss 17,92 persen, dan negara tax heaven countries Cayman Islands yang membebaskan pungutan pajak perusahaan alias nol persen.

3. Punya Pengalaman Atasi Krisis

Singapura menjadi salah satu negara tujuan penyimpanan uang. Alasannya selain sistem pengawasan yang ketat, Singapura juga pandai atasi krisis. Pengalaman Singapura dalam menangani dan mengelola krisis tersebut telah diakui oleh para manajer investasi di berbagai negara. Sehingga para pemilik dana ini menaruh kepercayaan di negara ini.

Seperti diketahui, krisis ekonomi yang terjadi di suatu negara umumnya dimulai dari terjadinya krisis pada sektor keuangan. Dalam kondisi krisis tersebut, maka pemilik modal juga akan menjauh, yang berakibat pada semakin sulitnya lapangan pekerjaan, hingga pengangguran dan kemiskinan meningkat.(mdk/rur)