Malang, CakrawalaNews.co – Hutan mangrove dan hasil laut menjadi dua potensi yang dapat dikembangkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir Teluk Asmara, Kabupaten Malang.
Selain menjaga ekosistem, sumber daya lokal tersebut membuka peluang usaha bagi keluarga nelayan agar tidak sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan.
Peluang itu menjadi salah satu fokus gerakan Merawat Bumi Pertiwi yang digagas PDI Perjuangan di Pantai Teluk Asmara.
Melalui kegiatan tersebut, nelayan, istri nelayan, dan generasi muda pesisir didorong mengembangkan keterampilan yang menghubungkan pelestarian lingkungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Program ini mengusung tiga pilar, yakni Healthy Mangrove, Stronger Community, dan Blue Carbon Future.
Kegiatannya tidak hanya berfokus pada konservasi mangrove, tetapi juga mencakup pengolahan sampah, pemanfaatan sisa kayu menjadi kerajinan, pengembangan usaha mikro, serta pengenalan peluang perdagangan karbon.
Pendekatan tersebut menempatkan kelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat sebagai dua hal yang saling berkaitan.
Namun, potensi itu membutuhkan pengelolaan yang konsisten agar tidak berhenti pada kegiatan pelatihan.
Anggota DPR RI Andreas Edi Susetyo menilai konservasi hutan dan mangrove tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
“Konservasi, baik hutan maupun mangrove, mempunyai nilai manfaat ekonomi,” kata Andreas.
Menurut dia, generasi muda pesisir perlu dilibatkan dalam gerakan lingkungan sekaligus dibekali pemahaman mengenai peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari kegiatan tersebut.
Salah satu upaya yang dilakukan ialah pelatihan pemanfaatan sisa kayu menjadi produk kerajinan atau handicraft.
Produk tersebut diharapkan dapat dipasarkan sebagai suvenir, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sektor perhotelan dan pariwisata.
Pemanfaatan bahan sisa menjadi produk bernilai jual membuka peluang usaha baru bagi warga.
Akan tetapi, pengembangan produk membutuhkan keterampilan produksi, desain yang menarik, kualitas yang konsisten, serta akses pasar yang memadai.
Di sisi lain, potensi ekonomi berbasis mangrove juga perlu ditempatkan dalam kerangka konservasi jangka panjang.
Kelestarian ekosistem pesisir menjadi modal penting yang harus dijaga agar pemanfaatannya tidak justru merusak lingkungan.
Ketergantungan pada hasil tangkapan membuat ekonomi keluarga nelayan rentan terhadap perubahan cuaca.
Ketika kondisi laut tidak memungkinkan untuk melaut, pendapatan rumah tangga berpotensi ikut berkurang.
Karena itu, pengolahan hasil laut menjadi salah satu peluang yang perlu dikembangkan.
Hasil tangkapan tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga berpotensi diolah menjadi produk makanan dengan nilai tambah.
Andreas mengatakan para istri nelayan dapat mengambil peran dalam mengembangkan usaha pengolahan hasil laut sebagai sumber pendapatan alternatif bagi keluarga.
“Kalau nelayan tidak bisa melaut, salah satu sumber pendapatan bisa berasal dari bagaimana ibu-ibu mengembangkan hasil laut tersebut,” ujarnya.
Selain pengolahan hasil laut, nelayan juga didorong menjajaki budidaya ikan sebagai salah satu upaya diversifikasi usaha.
Pengembangan kegiatan ekonomi alternatif ini diharapkan dapat memperluas pilihan sumber penghasilan keluarga pesisir.
Meski demikian, keberhasilannya bergantung pada ketersediaan bahan baku, keterampilan pengolahan, kebutuhan pasar, dan kemampuan warga menjaga keberlanjutan usaha.
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini menekankan pentingnya peningkatan kualitas produk agar usaha masyarakat dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Pelatihan yang diberikan mencakup pengembangan suvenir, perbaikan desain, pemilihan bahan, hingga pengolahan makanan agar lebih tahan lama.
“Jadi, kita bantu pelatihan untuk para pengrajin, terutama suvenir, agar mereka bisa memasuki pasar yang lebih atas dengan kualitas desain dan bahan yang lebih baik,” kata Risma.
Menurut dia, kualitas produk menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan usaha warga bersaing di pasar.
Perbaikan desain dan bahan diharapkan membuka peluang untuk memasuki segmen menengah atas, sedangkan pengolahan makanan yang tepat dapat mendukung pengembangan produksi dan pemasaran.
Risma juga melihat pariwisata sebagai peluang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir.
Nelayan, misalnya, dapat memanfaatkan perahu yang dimiliki untuk menjajaki wisata bahari.
Jika dikelola dengan baik, kegiatan wisata berpotensi menciptakan permintaan terhadap produk suvenir dan kuliner lokal.
Dengan demikian, manfaat pariwisata dapat menjangkau pelaku usaha kecil di sekitar destinasi.
Namun, pengembangan wisata tetap membutuhkan perhatian terhadap kebersihan dan kenyamanan pengunjung.
“Tidak ada wisata di mana pun yang sukses tanpa kebersihan,” ujarnya.
Kebersihan menjadi bagian penting dalam menjaga daya tarik kawasan pesisir.
Tanpa pengelolaan lingkungan yang baik, potensi wisata justru dapat menambah tekanan terhadap ekosistem yang menjadi modal utama masyarakat.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut gerakan Merawat Bumi Pertiwi berangkat dari nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab menjaga alam melalui semangat gotong royong.
Menurut dia, penanaman pohon, penghijauan, dan konservasi mangrove merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
Hasto juga menyebut Saptoyo dan Roni, penerima penghargaan Kalpataru, sebagai sosok yang menginspirasi melalui upaya pelestarian lingkungan di kawasan tersebut.
Ia turut menyinggung pengalaman Tri Rismaharini selama menjabat Wali Kota Surabaya dua periode, terutama dalam mengembangkan pengelolaan lingkungan yang terhubung dengan manfaat ekonomi masyarakat.
Hasto berharap gerakan tersebut berkembang menjadi gerakan kultural yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Pengembangan ekonomi pesisir Teluk Asmara masih membutuhkan upaya lanjutan.
Pelatihan perlu diikuti pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, dan pembukaan akses pasar agar peluang yang ada dapat berkembang menjadi sumber penghasilan yang nyata bagi warga.
Pada saat yang sama, pemanfaatan potensi wisata dan sumber daya laut harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem mangrove.
Keberhasilan tidak cukup diukur dari kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari keberlanjutan usaha masyarakat dan manfaat yang mereka rasakan tanpa mengorbankan lingkungan.
Bagi Hasto, upaya pelestarian lingkungan yang tumbuh dari keterlibatan masyarakat memiliki nilai penting untuk dikembangkan di wilayah lain.
“Kami juga belajar untuk diterapkan di daerah-daerah lain,” ujarnya. (*)





