Cakrawala NewsCakrawala SurabayaHeadline

Bukan Cuma Soal Ibu Hamil, Dosen UNAIR Ungkap Alasan Remaja Butuh Bidan Sejak Pubertas

×

Bukan Cuma Soal Ibu Hamil, Dosen UNAIR Ungkap Alasan Remaja Butuh Bidan Sejak Pubertas

Sebarkan artikel ini
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Wahyul Anis SKeb Bd MKes. (Foto: Humas UNAIR)
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Wahyul Anis SKeb Bd MKes. (Foto: Humas UNAIR)

Surabaya, CakrawalaNews.co | Profesi bidan selama ini kerap dikaitkan dengan pelayanan bagi ibu hamil dan proses persalinan. Padahal, peran bidan tidak terbatas pada itu saja. Mereka juga memiliki peran penting dalam mendampingi perempuan pada berbagai fase kehidupan, termasuk masa remaja.

Dalam momentum Hari Bidan Nasional, Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Wahyul Anis, S.Keb., Bd., M.Kes., menegaskan pentingnya keterlibatan bidan dalam memberikan pendampingan dan edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja.

Menurut Wahyul, kesehatan perempuan di masa depan dibangun sejak usia remaja. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tugas dan peran bidan.

“Bidan merupakan profesi kesehatan yang berperan dalam kesehatan perempuan sepanjang siklus hidupnya, termasuk pada masa remaja. Oleh karena itu, edukasi kesehatan reproduksi menjadi bagian penting dari peran bidan,” ujarnya.

Wahyul menjelaskan, perkembangan teknologi digital membawa tantangan tersendiri bagi generasi muda. Kemudahan mengakses informasi melalui internet tidak selalu diiringi dengan kualitas informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam kondisi tersebut, bidan memiliki peran sebagai sumber informasi yang kredibel dan dapat membantu remaja memperoleh pemahaman yang tepat mengenai kesehatan reproduksi.

Selain itu, Wahyul juga menyoroti berbagai persoalan kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja saat ini. Salah satunya adalah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada kehamilan tidak direncanakan.

Ia juga mengingatkan dampak buruk pola makan yang tidak sehat, termasuk kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji atau junk food. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas yang nantinya berpengaruh terhadap kesehatan saat memasuki masa kehamilan.

“Jika calon ibu memiliki gaya hidup yang kurang sehat kemudian mengalami obesitas, maka risiko hipertensi dalam kehamilan akan meningkat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan komplikasi seperti kejang, perdarahan, hingga gangguan pertumbuhan janin,” jelasnya.

Di sisi lain, pembahasan mengenai organ reproduksi dan kesehatan reproduksi masih dianggap sensitif oleh sebagian masyarakat. Padahal, edukasi mengenai hal tersebut sebaiknya diberikan sebelum remaja memasuki masa pubertas.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Wahyul menyarankan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan remaja. Salah satunya melalui diskusi antarteman sebaya (peer group) dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak terkesan menggurui.

Menutup keterangannya, Wahyul mengajak generasi muda untuk mulai menjaga kesehatan sejak dini, termasuk kesehatan reproduksi, sebagai investasi penting bagi masa depan.

“Jaga kesehatan dirimu dan kesehatan reproduksimu. Perempuan yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat pula,” pungkasnya. (s)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *