Cakrawala DaerahCakrawala JatimCakrawala NewsHeadline

Strategi Lumajang Hadapi Kemarau 2026 Melalui Pertanian Berbasis Efisiensi Air

×

Strategi Lumajang Hadapi Kemarau 2026 Melalui Pertanian Berbasis Efisiensi Air

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma,
Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma,

LUMAJANG, Cakrawalanews.co – Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma menyatakan bahwa pertanian berbasis efisiensi air menjadi strategi utama Kabupaten Lumajang untuk menghadapi musim kemarau pada tahun 2026.

“Pertanian harus bergerak menuju sistem yang adaptif dan efisien, mulai dari penyesuaian pola tanam, pemilihan varietas tahan kekeringan, hingga optimalisasi penggunaan air,” kata Yudha dalam keterangannya di Lumajang pada hari Rabu, 8 April 2026.

Yudha menilai perlindungan sektor pertanian dan penguatan tata kelola lingkungan menjadi pilar utama dalam strategi adaptasi menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026, sehingga langkah itu dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pangan sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem di tengah tekanan perubahan iklim.

“Sektor pertanian tidak hanya berperan sebagai penyokong ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Oleh karena itu, pendekatan adaptasi tidak lagi bersifat konvensional, melainkan harus berbasis risiko, data iklim, dan inovasi,” tuturnya.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode kemarau diperkirakan berlangsung pada pertengahan hingga akhir tahun 2026, dengan potensi peningkatan intensitas kekeringan di sejumlah wilayah.

“Kondisi itu menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk memperkuat strategi mitigasi yang lebih terarah dan terukur,” kata Yudha pada hari Rabu, 8 April 2026.

Upaya yang dilakukan tidak hanya terbatas pada optimalisasi jaringan irigasi, tetapi juga mencakup modernisasi sistem pertanian melalui pemanfaatan teknologi, seperti irigasi hemat air dan pengelolaan lahan berbasis efisiensi.

Melalui pendekatan ini, produktivitas pertanian diharapkan tetap terjaga meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya air.

Di sisi lain, pengelolaan lingkungan diperkuat sebagai bagian integral dari strategi adaptasi melalui peningkatan kewaspadaan pemerintah daerah terhadap potensi degradasi lahan, kebakaran hutan, serta penurunan kualitas ekosistem yang dapat memperburuk dampak kemarau.

“Pendekatan ini dilakukan melalui koordinasi lintas sektor serta penguatan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Yudha.

Yudha menegaskan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian lingkungan menjadi kunci dalam menjaga daya dukung wilayah.

Tanpa pengelolaan lingkungan yang baik, tekanan terhadap sumber daya alam justru akan memperbesar risiko yang dihadapi masyarakat.

“Adaptasi bukan hanya soal bertahan, tetapi bagaimana kita memastikan lingkungan tetap terjaga dan masyarakat tetap sejahtera dalam jangka panjang,” ujarnya.

Yudha juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sumber daya alam merupakan tanggung jawab bersama.

Partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penentu dalam memperkuat efektivitas kebijakan di tingkat lapangan.

“Dengan strategi yang terintegrasi antara sektor pertanian dan lingkungan, Pemerintah Kabupaten Lumajang optimistis mampu membangun ketahanan daerah yang lebih tangguh,” katanya.

Yudha berpendapat kebijakan itu tidak hanya responsif terhadap ancaman kemarau, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan, sehingga mampu menjaga produktivitas masyarakat sekaligus melindungi warisan lingkungan bagi generasi mendatang.(wa/ar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *