LUMAJANG, Cakrawalanews.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang kini mulai mengintegrasikan teknologi pada sektor pertanian agar bisa naik kelas dengan tujuan mendorong modernisasi agar bergerak ke fase substantif guna meningkatkan kesejahteraan para petani.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menjelaskan bahwa modernisasi tidak boleh berhenti pada distribusi alat saja, tetapi harus memastikan perubahan nyata pada sistem produksi dan peningkatan kesejahteraan petani pada hari Senin, 6 April 2026.
Penyerahan dua unit combine harvester dan satu unit drone pertanian kepada Brigade Pangan menjadi sinyal bahwa transformasi yang didorong bukan bersifat parsial, melainkan menyasar efisiensi dari hulu hingga ke hilir.
Indah Amperawati menempatkan teknologi sebagai pengungkit produktivitas sekaligus pengendali biaya dalam kerangka pembangunan tersebut.
Modernisasi ini harus mampu menjawab persoalan klasik pertanian yaitu tingginya kehilangan hasil, rendahnya efisiensi tenaga kerja, serta ketergantungan pada pola budidaya konvensional yang tidak lagi adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar.
Penggunaan combine harvester dianggap tidak hanya mempercepat proses panen, tetapi juga menekan post-harvest loss yang selama ini menjadi kebocoran tersembunyi dalam rantai produksi.
Peningkatan produksi tidak selalu harus berasal dari perluasan lahan, melainkan dari optimalisasi hasil yang sudah ada melalui sentuhan teknologi tepat guna.
Sementara itu, penggunaan drone pertanian menghadirkan pendekatan baru berbasis presisi, seperti penggunaan pupuk dan pestisida yang tidak lagi seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi spesifik lahan.
Hal tersebut bukan hanya terkait efisiensi biaya, tetapi juga menjadi langkah strategis menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di masa depan.
Namun, Indah Amperawati mengingatkan bahwa modernisasi berbasis teknologi tetap membutuhkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai motor penggeraknya.
Tanpa literasi teknologi yang memadai, alat dan mesin pertanian berpotensi hanya menjadi aset pasif yang tidak memberikan nilai tambah bagi para petani di lapangan.
“Yang kami bangun bukan sekadar alat, tetapi ekosistem, mulai dari SDM, kelembagaan, hingga tata kelola agar teknologi benar-benar memberikan dampak ekonomi,” katanya.
Modernisasi juga berkaitan erat dengan upaya menjaga stabilitas ekonomi, menekan inflasi pangan, serta memperkuat ketahanan daerah terhadap berbagai gejolak eksternal.
“Keberhasilan modernisasi tidak diukur dari jumlah alsintan yang disalurkan, tetapi dari sejauh mana sistem produksi benar-benar berubah lebih efisien, lebih adaptif, dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
(wa/ar)



