Sleman, Cakrawalanews.co – Kehidupan berasrama di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi arena pembentukan karakter dan kemandirian bagi siswanya. Dalam proses yang penuh tantangan ini, peran wali asuh dan wali asrama menjadi sangat krusial, hadir 24 jam sehari mendampingi siswa secara personal.
Wali Asrama SRMA 20 Sleman, Neny Handayani, menekankan bahwa pendekatan personal adalah kunci. “Anak-anak terbiasa hidup bebas di rumah. Di sini mereka harus belajar kedisiplinan. Kami hadirkan kegiatan menyenangkan agar mereka merasa nyaman terlebih dahulu,” ujar Neny.
Tantangan Emosional dan Pembiasaan Disiplin
Neny mengungkapkan tantangan terbesar di awal adalah adaptasi emosional, terutama bagi siswa yang baru pertama kali jauh dari keluarga. Awalnya, banyak siswa yang ingin pulang dan merasa tidak betah
“Kami terus motivasi mereka bahwa mereka adalah anak-anak terpilih, difasilitasi negara, dan harus bersyukur atas kesempatan ini,” kata Neny, menambahkan ia juga menggunakan pengalamannya sebagai mantan anak asrama untuk memberikan semangat.
Setelah empat bulan, proses pembiasaan disiplin, seperti bangun pagi dan salat subuh, masih terus berjalan. Nilai-nilai utama yang ditanamkan adalah kepedulian, kedisiplinan, dan tanggung jawab untuk memiliki serta menjaga fasilitas negara.
Peran Wali Asuh sebagai “Orang Tua” 24 Jam
Sementara itu, Wali Asuh SRMA 20 Sleman, Sri Haryanti, menjelaskan bahwa seluruh wali asuh bekerja dalam sistem tiga sif untuk memastikan pengawasan 24 jam. Ia memosisikan diri sebagai orang tua pengganti bagi enam siswa dampingannya.
“Tahap awal kami fokus mendengarkan, karena setiap anak punya karakter dan latar belakang berbeda,” jelas Sri.
Program kunci yang berhasil mencegah konflik dan mempererat siswa adalah peer group yang dilakukan setiap minggu. Forum ini menjadi tempat siswa berbagi cerita dan keluhan, yang kemudian dapat ditindaklanjuti dengan konseling individu jika diperlukan.
Setiap wali asuh juga memiliki catatan perkembangan harian masing-masing anak, mencakup kebiasaan, perilaku, dan kebutuhan khusus. Latar belakang Sri sebagai mantan pendamping PKH dan pekerja sosial memudahkan adaptasinya dalam pekerjaan ini.
Harapan Lulusan: Kuliah dan Mandiri
Sri Haryanti menyampaikan harapannya agar para siswa dapat berkembang setelah lulus, mengejar cita-cita kuliah, hidup mandiri, dan membahagiakan orang tua.
“Harapan saya, negara hadir untuk mewadahi mereka yang punya semangat dan prestasi agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” tutupnya.( wa/infp)












