Suasana berbeda hadir keesokan harinya di Dermaga Sungai Jagir, tepat di seberang kawasan Samator. Sejak pukul enam pagi, sekitar 200 peserta sudah bersiap mengikuti aksi lapangan. Agenda utama adalah pelepasan 10.000 ekor ikan Grass Carp, jenis ikan pemakan gulma air yang efektif mengendalikan pertumbuhan eceng gondok.
Selama bertahun-tahun, eceng gondok menjadi masalah serius di Sungai Jagir karena pertumbuhannya yang cepat menghambat aliran air, menurunkan kualitas air, bahkan memicu sedimentasi. Pelepasan ikan ini diharapkan menjadi solusi alami yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Selain itu, peserta juga melakukan bersih-bersih bantaran sungai dari Jembatan Nginden hingga Medokan Semampir.
Berbagai jenis sampah, mulai dari plastik sekali pakai hingga limbah rumah tangga, berhasil dikumpulkan. Sampah bernilai ekonomi dipisahkan untuk didaur ulang, sementara sampah organik diarahkan ke rumah kompos.
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT SIER, Jefri Ikhwan Maarif, menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga lingkungan.
“Sungai adalah sumber kehidupan, tetapi juga sangat rentan terhadap kerusakan akibat ulah manusia. Karena itu, pemerintah, swasta, komunitas, dan masyarakat harus saling menguatkan. Kami berharap aksi ini tidak berhenti pada acara seremonial, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari,” tegasnya.
Menurut Jefri, peringatan Hari Konservasi Alam Nasional harus dimaknai sebagai momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem darat maupun perairan.
“Apa yang dilakukan di Sungai Jagir ini adalah wujud nyata. Edukasi pelajar, penebaran ikan, pengolahan sampah, hingga bersih-bersih bantaran sungai menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga kelestarian alam,” tambahnya.














