Bahkan pada 24 Juli, agenda sempat terhenti menyusul adanya ancaman terhadap panitia. Namun setelah situasi kembali stabil, sidang berlanjut dan forum berhasil mencapai keputusan secara musyawarah.
Puncaknya, nama Risyad–Patra diterima bulat oleh seluruh peserta tanpa perdebatan. Ketukan palu aklamasi menjadi tanda dimulainya era baru kepemimpinan di tubuh GMNI, disambut dengan gemuruh semangat dari para kader di Gedung Merdeka.
“Kemenangan ini bukan untuk pribadi atau kelompok, tapi bukti bahwa seluruh kader GMNI siap satu barisan untuk membangun organisasi yang lebih progresif,” ujar Risyad dalam pidato perdananya.
Risyad juga mengingatkan pentingnya prinsip Trisakti Bung Karno sebagai landasan perjuangan GMNI. Menurutnya, nilai-nilai Trisakti tak boleh hanya berhenti sebagai jargon.
“Kader GMNI harus meneguhkan prinsip Trisakti. Jangan sampai Trisakti hanya berhenti di kerongkongan,” tegasnya.












