“Ketiga, mendorong kebiasaan memilah sampah dari rumah, yang diharapkan dapat menghemat anggaran pengelolaan sampah dan mengalihkannya untuk pendidikan gratis atau modal usaha,” ujar dia.
Keempat, mengembangkan program-program produktif di tingkat kampung untuk menciptakan peluang kerja bagi anak-anak muda setelah lulus sekolah, misalnya dengan mengidentifikasi potensi kampung untuk menyuplai kebutuhan hotel atau pabrik lokal.
“Dan kelima, mengontrol kos-kosan untuk memastikan tidak menjadi tempat yang memberikan contoh buruk bagi anak-anak dan menjaga keamanan lingkungan,” imbuhnya.
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu menegaskan bahwa kesejahteraan sejati akan terwujud ketika setiap individu menyadari bahwa rezeki dan kekayaan yang dimiliki adalah titipan Tuhan yang juga menjadi hak orang lain.
Ia berharap pertemuan ini menjadi awal untuk menyatukan tekad membangun Surabaya di atas landasan agama dan Pancasila.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama sebagai warga Surabaya. Kesejahteraan dan kebahagiaan sebuah kota ada pada rida Tuhan, dan rida Tuhan ada pada perbuatan baik manusia untuk saling menolong,” pungkasnya.














