Ia menilai, generasi muda saat ini perlu mengenal Bung Karno lebih dari sekadar tokoh sejarah. Lewat seni teater, kisah dan nilai-nilai perjuangan dapat disampaikan dengan cara yang menyentuh.
“Bung Karno ini bukan membuat Pancasila. Pancasila sudah ada di Indonesia, tapi memang beliau yang merangkai, penggalinya itu beliau. Bahkan saat diasingkan di Ende, beliau membuat tim sandiwara untuk mengisi waktu. Dari situ banyak ide kebangsaan muncul,” tuturnya.
Sementara itu, Restu Imansari Kusumaningrum, produser sekaligus pendiri Yayasan Taut Seni, menjelaskan bahwa pertunjukan ini merupakan hasil riset selama empat tahun, melibatkan lebih dari 20 seniman dan teknisi, dan ditampilkan dalam empat sesi pementasan.
“Harapannya, generasi anak-anak muda mau lagi meneliti dan melihat sejarah bangsanya. Sejarah itu milik semua peradaban manusia, dia punya rekam jejaknya,” ujarnya.
Pentas ini digarap oleh Bumi Purnati Indonesia bekerja sama dengan The Drama Theater of Kattakurgan, Uzbekistan, dengan pendekatan teater arsip menggabungkan seni pertunjukan dengan dokumentasi sejarah.
Kisah ini tak hanya menyingkap babak penting dalam diplomasi non-blok Indonesia di tengah Perang Dingin, tetapi juga menyalakan kembali nyala api perjuangan Bung Karno dalam bingkai spiritualitas dan budaya.














