Ia juga mengapresiasi keterlibatan aktor senior Rano Karno dalam produksi ini dan menegaskan bahwa api semangat Bung Karno harus terus diwariskan kepada generasi muda Surabaya.
“Ini mengeksplor bahwa Soekarno dan Surabaya tidak bisa dipisahkan. Kekuatan api, semangatnya Bung Karno, api perjuangannya ada di darahnya anak-anak Surabaya,” tegasnya.
Lebih jauh, Eri mengingatkan bahwa Surabaya bukan sekadar tempat lahir Bung Karno, melainkan tempat di mana karakter ideologinya ditempa.
“Karena Soekarno dilahirkan di Surabaya, dan beliau belajar terkait politik dan belajar terkait menguatkan Islam kepada HOS Tjokroaminoto,” jelasnya.
“Sehingga ini akan mengeksplor betul bagaimana Surabaya dan Soekarno menjadi contoh bagi arek-arek Suroboyo. Mengingatkan kembali bahwa api perjuangan Soekarno harus kita ambil, kita jalankan. Bukan abunya, tapi api perjuangannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Rano Karno, yang juga dikenal sebagai seniman sekaligus Wakil Gubernur DKI Jakarta, menggarisbawahi sisi ruhani Bung Karno yang jarang dieksplorasi publik, terutama dalam kaitannya dengan Imam Al Bukhori.
“Saya melihatnya, selama beliau diasingkan di Ende, beliau pasti dimimpikan tempat itu. Ketika menyusun Pancasila, beliau banyak mendapat firasat atau ilmu dari hadits ini (Imam Al-Bukhari), dia menemukan kata-kata ketuhanan yang maha esa, keadilan,” ujar Rano.














