Salah satu warisan ajaran beliau yang patut direnungkan adalah konsep sederhana namun mendalam:
Koreksi Diri, Tahu Diri, dan Alhamdulillah.
Tiga kalimat ini menjadi pedoman hidup spiritual yang relevan lintas zaman.
- Koreksi Diri: mengajak kita untuk terus introspeksi, menyadari kelemahan tanpa sibuk menilai kesalahan orang lain. Gus Miek meyakini, perjalanan menuju Tuhan selalu dimulai dari pengakuan akan keterbatasan diri.
- Tahu Diri: mengajarkan pentingnya rendah hati. Bahwa setinggi apa pun ilmu, sepadat apa pun amal, manusia tetap makhluk lemah yang tak layak menyombongkan diri di hadapan siapa pun apalagi di hadapan Tuhan.
- Alhamdulillah: mengingatkan bahwa segala sesuatu baik maupun buruk, mudah ataupun sulit layak disyukuri. Karena di balik setiap kejadian, ada rencana Tuhan yang seringkali tak mampu kita pahami, tapi selalu baik pada akhirnya.
Tiga ajaran ini menjadi dasar mengapa dakwah Gus Miek begitu mengena. Beliau tidak tampil sebagai sosok yang merasa paling benar, tetapi sebagai saudara yang mengajak kembali ke jalan Tuhan dengan cara yang lembut dan penuh welas asih. Ia memeluk, bukan menunjuk. Ia menyapa, bukan mencela.
Dalam situasi bangsa yang kadang penuh perpecahan atas nama agama, sosok seperti Gus Miek adalah teladan. Bahwa kearifan spiritual dan akhlak adalah inti dakwah yang sesungguhnya. Dan bahwa tidak semua jalan pulang harus dimulai dari masjid—kadang dimulai dari warung kopi, pinggir jalan, bahkan tempat hiburan malam, selama niat dan hatinya benar.














