4. Abad Pertengahan: Roti dan Feodalisme
Pada Abad Pertengahan, roti menjadi simbol status sosial. Roti putih halus umumnya dikonsumsi oleh bangsawan dan kelas atas, sedangkan roti gandum yang lebih kasar dikonsumsi oleh rakyat biasa. Roti menjadi komoditas penting dalam sistem feodalisme, dan para petani diwajibkan untuk membayar pajak kepada tuan tanah mereka dalam bentuk roti.
5. Revolusi Industri: Roti dan Produksi Massal
Revolusi Industri membawa perubahan besar dalam produksi roti. Mesin penggilingan dan oven modern memungkinkan produksi roti secara massal, yang membuat roti lebih murah dan mudah diakses oleh masyarakat luas. Hal ini berkontribusi pada peningkatan populasi dan urbanisasi di Eropa.
6. Abad ke-20 dan 21: Inovasi dan Variasi Roti
Pada abad ke-20 dan 21, roti terus berkembang dengan berbagai inovasi dan variasi. Penambahan bahan-bahan baru, seperti buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian, menghasilkan roti dengan rasa dan tekstur yang lebih beragam. Roti gandum utuh dan roti bebas gluten menjadi populer seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan.
7. Roti di Indonesia: Dari Gaplek Hingga Roti Modern
Di Indonesia, roti memiliki sejarahnya sendiri yang unik. Masyarakat Indonesia mengenal roti sejak era kolonialisme Belanda, yang memperkenalkan roti gandum dan roti tawar. Roti tradisional Indonesia, seperti gaplek dan roti manis, juga masih populer hingga saat ini.












