“Kelompok-kelompok Ludruk di Surabaya saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. Sehingga butuh kepedulian pihak-pihak terkait. Kalau menggandalkan tanggapan jarang,” ujar istri almarhum seniman Ludruk Cak Lupus tersebut.
Noni menambahkan, kelompok Ludruk di Surabaya yang mempunyai Tanda Daftar Kesenian (TDK) banyak yang tercatat di Disbudporapar. Namun banyak juga yang mati suri.
“Mereka kekurangan anggota bahkan tidak punya anggota. Sehingga harus nyomot sana sini saat pentas. Boleh dibilang kolaborasi dengan grup lain,” imbuhnya.
Meski ditengah himpitan arus moderenisasi, kelompok Ludruk di Surabaya tidak patah semangat agar tetap eksis. Salah satu caranya dengan melakukan regenerasi.
“Karena pemain ludruk senior sudah semakin berkurang. Karenanya kita meregenerasi. Di Arboyo pemain ludruk sampai pengrawitnya, ada yang anak SD, SMP, SMA dan Mahasiswa. Demikian pula di Ludruk Putra Taman Hira, itu mayoritas pemainnya masih muda-muda,” terang Noni.












