Hal demikian, tambah Reni, ditandai dengan manuver dan geliat sektor ekonomi daerah pasca badai PHK saat masa pandemi mendera selama dua tahun lalu sekaligus upaya intervensi bantuan pemerintah.
“Ada pula upaya Pemkot terkait pemanfaatan aset melalui program rumah padat karya. Ya, walaupun ini masih awal, saya kira juga perlu terus dikembangkan dengan pengelolaan yang lebih baik agar memberikan berkontribusi terhadap penurunan TPT di Kota Surabaya,” tuturnya.
Baginya, optimisme dan semangat bersama seluruh pihak menjadi upaya untuk mendorong Pemkot dalam rangka menurunkan TPT secara signifikan ke depannya.
“Dengan capaian di 2022, kita harap TPT di 2023 bisa lebih kita kejar lagi. Setidaknya mengembalikan TPT seperti sebelum pandemi di tahun 2019, 5,76 persen. Lebih bagus lagi kalau bisa di bawah itu, kisaran 4 persen,” jelasnya.
“Tahun 2022 target angka investasi Surabaya sebesar 34 Triliun, jika ini tercapai dan warga Surabaya mendapat prioritas di dunia kerja maka akan berdampak pada penurunan TPT,” sambung Reni.












