“Ayo jangan malu ketika memakai produk buatan UMKM, saya saja ketika ada tugas ke pemerintah pusat selalu memakai batik dan sepatu buatan UMKM Surabaya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopdag) Kota Surabaya, Risdiana Kusumawati menjelaskan, kehadiran food truck di CFD Jembatan Suroboyo sebagai bagian untuk memantik pengunjung datang. Namun, meski baru dilakukan trial, animo masyarakat yang datang rupanya sangat besar.
“Karena trial, makanya kita hadirkan masih belum banyak. Kita undang enam food truck, tadi yang datang lima, karena satu berhalangan. Semuanya merupakan warga Surabaya,” kata Risdiana.
Selain food truck, Risdiana juga mengungkapkan, bahwa CFD Jembatan Suroboyo dilengkapi pula dengan kehadiran 20 pelaku UMKM sekitar. Para pelaku UMKM tersebut, berasal dari wilayah Kecamatan Kenjeran dan Bulak. Mulai dari UMKM kuliner, aneka jajanan, minuman hingga craft.
“Yang paling banyak kalau food truck tadi minuman. Kalau UMKM makanan berat. Kalau food truck selama ini kan rata-rata bukan makanan berat, tapi makanan ringan sama minuman seperti kopi anak-anak muda,” jelasnya.
Risdiana pun mengungkapkan alasan menghadirkan food truck di CFD Jembatan Suroboyo. Menurutnya, selama pandemi Covid-19, pihaknya melihat banyak di antaranya pelaku usaha food truck yang sepi. Akhirnya, pemkot berinisiasi untuk memfasilitasi mereka dengan menyediakan tempat. Beberapa tempat pun sebelumnya sempat menjadi opsi sebelum akhirnya dipilih Jembatan Suroboyo.
“Akhirnya kita cari dan nemunya kita trial di Jembatan Suroboyo, viewnya bagus dan sesuatu yang beda buat masyarakat. Selain itu karena mereka adalah UMKM juga, maka kita trial di Jembatan Suroboyo,” papar dia.
Meski kehadiran food truck ini bersifat trial, namun diakuinya, bahwa respons masyarakat yang datang sangatlah luar biasa. Bahkan menurutnya, kehadiran food truck tidak mengurangi omzet penjualan UMKM yang selama ini ada di lokasi CFD.












