“Jadi inilah yang selalu saya katakan di pemkot, ketika keluar dari ruang konsultasi, warga itu harus sudah ada jawaban. Jangan sampai belum ada jawaban warga itu kemudian disuruh kembali besok lagi,” tegasnya.
Untuk memudahkan koordinasi secara internal, Wali Kota Eri juga menginstruksikan jajarannya agar membuat sistem aplikasi. Melalui aplikasi tersebut, setiap permasalahan warga yang masuk dapat dirembuk secara bersama oleh instansi terkait. “Nanti masuk ke sistem aplikasi. Kalau sudah masuk nanti semua (instansi) bisa menjawab,” terangnya.
Tak hanya memberikan kemudahan dalam pelayanan publik, Wali Kota Eri juga menginginkan agar ruang konsultasi tersebut didesain senyaman mungkin untuk warga. Bahkan, dia juga menginginkan agar konsep desainnya itu seperti ruang Swargaloka (Publikasi Suara Warga Mengelola Kebutuhan Adminduk) milik Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya.
“Buat kayak ruangannya cafe seperti Dispendukcapil. Karena kalau loket kan sifatnya terbuka, jadi berbeda. Usahakan juga tampilannya berbeda. Jadi kursinya dibuat nyantai bentuknya, jadi orang datang itu nyaman, tidak takut,” papar dia.
Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu berkomitmen untuk mengubah Kota Pahlawan menjadi lebih baik lagi. Termasuk pula dalam hal pelayanan publik. Sehingga masyarakat benar-benar dapat menikmati Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya.
“Saya ingin ubah Surabaya harus jadi lebih baik agar warga Surabaya bisa menikmati APBD-nya Kota Surabaya. Nah, untuk mencapai suatu titik tujuan itu butuh terobosan dan harus ada perbaikan-perbaikan,” imbuhnya.












