Menurutnya, kondisi fiskal dan moneter saat ini tidak saling memperkuat, karena di dalam sistem makro hal ini akan mempengaruhi industri keuangan. Oleh sebab itu pajak proyek jangka panjang penerimaannya ditunda dan dialihkan pada proyek jangka pendek dua tahunan. Hal ini akan sangat mempengaruhi kemampuan daya beli dan konsumsi masyarakat. “Bank Jatim sebagai bank masyarakat Jatim yang sudah masuk pasar bursa, harus mampu mendukung pembangunan pemerintah Jatim. Jadi selain mendapat keuntungan yang besar juga harus mampu memberikan kredit bunga murah untuk pembangunan,” pungkasnya.
Sementara itu, Dirut Bank Jatim R. Soeroso menyampaikan, jumlah investor asing pada bulan Juni 2015 sebanyak 72,39% dan investor domestik/dalam negeri sebesar 27,61% dari total public share. Investor asing Bank Jatim berasal dari 26 negara, diantaranya Sirpus, AS,Norwegia, dan Finlandia. Selain itu, dividen yield Bank Jatim mencatat angka tertinggi di antara bank lain yang sudah go public, yakni mencapai 9%. “Perolehan dividen per lembar saham naik dari Rp 40,61 per lembar saham pada tahun 2014, menjadi Rp 41,86 per lembar pada 2015,” terangnya.(mnhdi)












