Hari telah melewati Senja sang suryapun sudah kembali ke peraduanya ketika Bagong sedang berbincang serius dengan Semar bapaknya di Serambi Baledusun Karang Kadempel
Kopi yg sudah mulai dingin diseruputnya perlahan membantunya menelan singkong rebus sisa tadi pagi seraya duduk diatas Lincak (kursi panjang dari Bambu) yg terdengar berderit akibat sudah mulai reot dan renta dimakan usia.
Bagong sangat heran dengan Bapaknya yg katanya keturunan Dewa tapi kok malah hidup sederhana tdk mau menampakan sifat kedewaanya malah menjadi Punakawan atau Pengasuh para Pandawa pekerjaan yg menurutnya tdk sesuai dengan derajatnya.
Mungkin setidaknya bs mengangkat derajat anaknya yaitu dirinya beserta kedua kakaknya Gareng dan Petruk dengan hidup sebagai keturunan Dewa agar tdk susah hidup didunia jika Semar mau melakukanya.













