Selain itu, ia juga menjelaskan tentang pembangunan box culvert yang luas dan dalam di berbagai lokasi di Surabaya. Di atas box culvert itu dibuat jalan dan beberapa saluran juga dibuat pedestrian, sehingga ada dua fungsi yang bisa dimanfaatnya.
“Yang paling penting, salurannya itu harus diconnectkan, harus terkoneksi semuanya, kalau tidak pasti akan menjadi masalah, makanya kadang kalau kita kekurangan uang, kita lebih prioritaskan dulu salurannya, supaya tidak meluap, pedestriannya bisa digarap setelahnya kalau ada uang,” kata dia.
- Berita lainnya yang menarik : Kasus Covid-19 Surabaya Mulai Melandai Sebanyak 63 Kelurahan Sudah Nol Kasus
Saat itu, Wali Kota Risma juga menjelaskan tentang pembangunan waduk atau bozem yang mana sampai saat ini sudah ada sekitar 75 bozem di Surabaya. Ia juga menjelaskan tentang pentingnya pintu air dan pompa air untuk mengatasi musim hujan, termasuk pula intensitas pengerukan dan normalisasi sungai yang terus dilakukan di berbagai saluran dan sungai di Surabaya.
Dalam pertemuan itu, Wali Kota Risma juga sempat dimintai saran oleh anggota Pansus Banjir DPRD DKI Jakarta supaya ibu kota negara itu bisa mengatasi banjir. Karena diminta, Wali Kota Risma pun memberikan berbagai saran yang harus dilakukan di DKI Jakarta supaya terbebas dari banjir.
Sementara itu, Ketua Pansus Banjir DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani, menjelaskan sebelum ke Surabaya, ia mengaku sudah sempat ke Semarang untuk mengetahui penanganan banjir di sana.
“Kemarin kita sudah ke Semarang. Kita sudah punya ilmu banyak. Penanggulangan banjir dalam 10 tahun dari 80 persen titik genangan kini tinggal 13 persen. Tadi ke tempat Bu Risma lebih luar biasa lagi, 50 persen titik banjir kini tinggal 2,3 persen. Tadi kami belajar banyak dari Kota Surabaya,” kata Zita.












