Lebih lanjut, ia menilai ada yang ganjil dengan kenaikan harga gula. Apalagi kondisi gula juga dikatakan cukup dan tidak ada kekurangan stok. Bahkan di Jatim ini juga memiliki pabrik gula di beberapa kabupaten/kota yang mampu memproduksi gula tiap hari. “Ini kan aneh. Kita banyak memiliki pabril gula. Tidak ada fuso terkait tanaman tebu. Pabrik terus produksi. Ini ada apa? Masak kita kekurangan stok? Kan ini perlu dipertanyakan,”ucapnya.
Apakah perlu dilakukan subsidi ongkos angkut untuk intervensi harga gula ini, ia mengatakan apabila solusi memberi ongkos angkut ini bisa memberikan solusi untuk menekan harga gula maka perlu dilakukan pemerintah. Tapi sebelum memberikan ongkos angkut ini perlu dilakukan perhitungan kembali apakah cadangan anggaran tersebut tersedia atau tidak. “Prinsipnya tugas pemerintah itu memberikan layanan kepada masyarakat. Kalau masyarakat tertekan dan membutuhkan bantuan maka pemerintah harus hadir,”pintanya Daniel politisi asal Malang ini.
Ia menambahkan, pihak Komisi B DPRD Jatim akan melakukan pemanggilan kepada pihak Disperindag Jatim terkait kelangkaan yang menyebabkan kenaikan harga gula. “Kami ingin tahu penjelasan dari sana (Disperindag) kenapa ini terjadi. Harus dicari dulu akar permasalahan kelangkaan gula di Jatim yang berdampak pada kenaikan harga,”ujarnya.



