Menurutnya, pada fase ini atlet harus bertahan dan berusaha sabar untuk memerangi rasa bosan yang sering membayangi. Tak sedikit atlet merasa bosan dalam fase latihan ini, karena yang dilakukan hanya mengayunkan tangan ke atas dan ke bawah dengan memegang barble atau alat pemberat lainnya. “Kalau sudah menembak, memang berasa seperti sniper. Tapi kalau belum, ada fasenya bosan,” ujarnya.
Selama berkarier dalam olahraga menembak, tak kurang dari 30 medali sudah dikantonginya, terdiri dari medali emas, perak dan perunggu baik perorangan maupun team, mulai dari tingkat TNI AD hingga mewakili Indonesia di event Asia Tenggara sebagai atlet AARM. Pada Agustus 2019 kemarin dalam Kejurnas se-Indonesia dan Indonesia Open yang diikuti 20 negara, Yuni mendapatkan tiga emas dan dua perak untuk kelas sport pistol women dan air pistol women.
Saat ini, Yuni sedang fokus berlatih untuk mengikuti Olimpiade Militer Dunia di China pada pertengahan Oktober 2019 mendatang. Yuni mengaku bangga diberi kesempatan bisa ikut andil dalam pagelaran kejuaraan militer sedunia tersebut.
“Ya saya sadar tidak mudah untuk mengalahkan atlet lain, apalagi saingannya dari seluruh dunia. Tapi saya akan berusaha berbuat yang terbaik buat Indonesia. “Semoga saya dapat mempersembahkan medali emas di sana untuk Indonesia,” harap Yuni.












