Kendati demikian, untuk menuju ke sana masih terkendala masalah baterai. Apalagi untuk total pembiayaan produksi mobil listrik, baterai memiliki porsi mencapai 30-35 persen. “Ini yang masih cukup signifikan nilainya maka bagaimana riset di bidang baterai harus kita kembangkan terus,” kata dia.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku baterai, menurut dia, saat ini pemerintah telah menyiapkan kawasan industri terpadu yang memproduksi baterai mobil listrik yang berlokasi di Halmahera, Maluku dan Morowali, Sulawesi Tengah yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2021-2022.
“Kalau nanti di Morowali dan di Halmahera sudah jadi, bahan baku dari situ. Maka sudah ada baterai lokal dari Indonesia. Ini akan menghemat harga satu kendaraan mobil listrik,” kata dia. (ant/wan)












