Arumimelanjutkan, TP PKK akan melakukan integrasi program Kelompok Kerja (Pokja) PKK bersama pemerintah guna mencegah dan menangani stunting. Untuk pencegahannya, perlu dilakukan pada seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK). Sementara untuk penanganannya, diperlukan cara stimulasi pengasuhan dan pendidikan berkelanjutan.
Arumi mencontohkan untuk pencegahan stunting pada seribu HPK, kader PKK bisa melakukan intervensi sensitif dengan cara memberikan edukasi terhadap ibu hamil tentang pentingnya pemenuhan gizi sejak di kandungan, serta memberikan ASI pada anak pasca melahirkan. Selain itu, kader PKK diharapkan agar ikut memantau jika ada ibu hamil disekitarnya.
“Kita bisa mendeteksi kemungkinan ada anak terlahir stunting dengan cara melihat faktor-faktor eksternal. Misalnya, ada calon ibu yang pola hidupnya kurang bagus, makannya sedikit, lingkungannya kurang higienis, maka kemungkinan dia melahirkan anak stunting bisa lebih besar,” ujarnya.
Melalui intervensi tersebut, imbuh Arumi, efektivitas anak berusia 0-2 tahun yang menderita stunting bisa lepas dari persoalan stunting-nya mencapai 70-90 %. Sedangkan jika diintervensi saat anak berusia diatas 2 tahun, kemungkinan lepas dari persoalan stunting akan lebih sulit. Karena itu, intervensi ini harus terus dilakukan agar stunting bisa punah dari bumi Indonesia.












