Kepala Disnakertrans Jatim, Himawan Estu Subagjo, mengatakan dua negara yang masih menjadi pilihan favorit PMI adalah Malaysia dan Singapura. Faktor jarak kemungkinan menjadi pertimbangan utama para PMI. “Kalau yang jauh mereka tidak berani ilegal,” katanya, Rabu, (6/2).
Ia mengakui deportasi PMI ilegal memang bukan permasalahan yang baru sehingga perlu mendapat perhatian khusus. Pemprov Jatim, sambungnya, telah menganggarkan setiap tahun untuk memulangkan PMI ilegal. Pada 2018, anggaran sekitar Rp 800 juta digunakan untuk mengantar mereka kembali ke kampung halaman masing-masing.












