Menurutnya okupansi penumpang hanya berkisar 50-60 persen dari jumlah kursi yang tersedia sebanyak 70 kursi, sehingga masih dibawah rata-rata ideal keterisian penumpang yang seharusnya diatas 60 persen yakni minimal 45 kursi yang terisi untuk setiap kali penerbangan.
“Pengurangan frekuensi penerbangan itu tidak hanya terjadi untuk rute Jember-Surabaya, namun skala nasional di beberapa daerah yang mengalami sepinya penumpang juga berkurang karena pihak manajemen melakukan evaluasi terkait hal tersebut,” tuturnya.
Ia mengatakan puncak kepadatan penumpang atau “peak season” di Bandara Notohadinegoro Jember terjadi pada pertengahan Desember hingga akhir Desember 2018 karena ada momentum Natal dan sebagainya, namun pada pekan pertama Januari 2019 mulai terjadi penurunan penumpang.












