“Jadi satu anak tiga pendamping keluarga. Dari unsur nakes, dari unsur PKK, sama dari unsur Kader Surabaya Hebat,” katanya.
Selain itu, proses pendampingan dan penilaian juga melibatkan berbagai pihak, yakni Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), unsur lingkungan keluarga, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).
IDAI bertugas memantau tumbuh kembang anak, HIMPSI menilai keterlibatan ayah dalam pengasuhan, sementara aspek lingkungan menitikberatkan pada kebersihan rumah dan penerapan pola hidup sehat keluarga. Adapun FKM memberikan pendampingan terkait pemberian makanan bergizi dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia anak.
“Karena ternyata pengaruh ayah cukup besar untuk perkembangan anak. Sehingga keterlibatan ayah ini dilihat nanti di dalam penilaian,” tutur Bunda Rini.
Dalam kesempatan itu, Bunda Rini juga mengungkap proses penjaringan peserta telah dimulai sejak Mei 2026 melalui koordinasi dengan TP PKK tingkat kecamatan dan kelurahan. Peserta yang dipilih merupakan balita pra-stunting tanpa penyakit penyerta sehingga dapat langsung mendapatkan intervensi. “Sasaran kegiatan ini ada 499 balita usia 6 sampai 59 bulan dengan kriteria pra-stunting,” katanya.
Dari total 788 balita yang terdata, sebanyak 499 balita mengikuti program. Sementara 249 balita tidak mengikuti program, 14 balita memiliki penyakit penyerta, dan 26 balita berasal dari keluarga dengan kartu keluarga non-Surabaya.
Bunda Rini menuturkan, sebagian orang tua memilih tidak mengikuti program karena berbagai faktor. Mulai dari kesibukan bekerja hingga enggan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang memerlukan komitmen selama dua bulan.












