Dalam penampilannya, Purbaya mengangkat kisah Klono Sewandono dengan memasukkan berbagai unsur pakem kesenian reog ke dalam koreografi pertunjukan. “Kita mengangkat konsep seperti Klono Sewandono, dan semua tentang seni yang ada di dunia kesenian itu pakemnya kita masukkan semua dalam tari tersebut,” jelasnya.
Sebagai bentuk identitas daerah, kontingen Kota Pahlawan juga memasukkan lagu khas Surabaya ke dalam pertunjukan yang ditampilkan di panggung utama. “Memang ciri khas kita membawa nama baik Surabaya, paling tidak lagu Surabaya harus kita masukkan dalam koreo seni tradisional,” imbuhnya.
Untuk mendukung penampilan tersebut, Purbaya memberangkatkan hampir 200 orang yang terdiri atas pemain inti dan suporter. “Total pemain inti sama supporter kita bawa kurang lebih hampir 200 orang,” katanya.
Tim inti terdiri atas penari Jathil, Warok, Bujang Ganong, Klono Sewandono, serta elemen pendukung lainnya sesuai pakem pertunjukan reog. Selain itu, Purbaya juga membawa lima dadak merak yang dihiasi logo Pemkot Surabaya sebagai simbol representasi Kota Pahlawan di panggung nasional.
Mas Tris turut menyampaikan terima kasih kepada Disbudporapar Surabaya serta para tokoh masyarakat yang selama ini memberikan dukungan terhadap eksistensi dan pengembangan Purbaya. “Alhamdulillah kita selalu bekerja sama dengan dinas, selalu di-support, dan para tokoh masyarakat sesepuh-sesepuh yang ada di Surabaya juga selalu support tentang kegiatan kita, agenda tahunan ini,” ujarnya.
Secara khusus, Mas Tris juga menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Eri Cahyadi atas dukungan yang diberikan selama proses persiapan hingga pelaksanaan festival. “Alhamdulillah saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Wali Kota Eri Cahyadi, cacaknya arek-arek Surabaya, matur suwun sanget atas supportnya melalui Disbudporapar,” pungkasnya. (*)












