“Grebeg Suro menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat, rezeki, dan keselamatan yang telah diberikan, sekaligus momentum refleksi diri untuk memperbaiki kehidupan di tahun yang baru. Tradisi ini juga mencerminkan harmonisasi antara ajaran Islam dan budaya Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya.
Menurut Sulardi, penyelenggaraan Grebeg Suro bertujuan memohon keselamatan, keberkahan, dan kelancaran rezeki bagi masyarakat melalui berbagai rangkaian doa dan kegiatan bersama. Selain itu, tradisi ini berperan penting dalam melestarikan warisan budaya leluhur, memperkuat silaturahmi dan semangat gotong royong antarwarga, sekaligus menjadi sarana promosi seni budaya dan potensi daerah yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat serta sektor pariwisata.
Ketua Umum IKG, Ipda. Purn. Saimo, berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi warga Gunungkidul di perantauan, tetapi juga mampu memperkuat semangat kebersamaan dalam mewujudkan visi organisasi melalui pelaksanaan Sapta Cita IKG.
Sementara itu, Humas IKG, Tarsih Ekaputra, menyampaikan bahwa Grebeg Suro telah menjadi agenda tahunan yang memperkuat eksistensi dan konsolidasi organisasi.
“Saat ini IKG telah berkembang menjadi organisasi besar dengan sekitar 1.600 organ organisasi yang terdiri dari 18 Koordinator Kapanewon, 7 Koordinator Wilayah, 144 Koordinator Kelurahan, dan 1.431 Koordinator Dusun. IKG diharapkan terus menjadi wadah yang mempererat kebersamaan, solidaritas, dan semangat gotong royong warga Gunungkidul di perantauan. Yang sudah mapan membantu yang sedang berjuang, sehingga bersama-sama dapat memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan dan kemajuan Gunungkidul,” ungkapnya.












