Cakrawalanews.co- Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat peran generasi muda dalam membangun kemandirian ekonomi melalui program Kampung Pancasila.
Salah satu langkah konkret yang diambil adalah kebijakan pengalokasian anggaran sebesar Rp5 juta per bulan bagi setiap RW yang dikhususkan untuk aktivitas generasi muda atau Gen Z.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa dana ini bertujuan untuk melatih kemandirian serta visi strategis anak muda di tingkat perkampungan. Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan anggaran tersebut memiliki syarat yang ketat terkait aspek fungsionalnya.
“Pencairan anggaran ini tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan harus berbasis kemanfaatan nyata untuk masyarakat,” ujar Eri di Surabaya, Minggu.
Setiap Karang Taruna atau kelompok Gen Z di tingkat RW diwajibkan menyusun proposal kegiatan yang memiliki manfaat jangka panjang. Jika rencana tersebut dinilai memberikan dampak langsung bagi lingkungan atau pengembangan kapasitas diri pemuda, maka dana akan segera dicairkan melalui proses seleksi di tingkat kecamatan.
“Proposalnya itu adalah kegiatan yang ada manfaatnya untuk karang taruna dan Gen Z yang ada di setiap RW,” katanya.
Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri ini menekankan pentingnya manajemen perencanaan bagi anak muda agar anggaran tersebut tidak terbuang sia-sia. Hal ini sekaligus menjadi sarana edukasi manajerial bagi para pemuda di Surabaya.
“Saya ingin Gen Z ini punya pandangan, punya visi, punya rencana. Jangan sampai dikasih duit lalu habis begitu saja tanpa manfaat. Kita latih juga mereka menata rencana agar bisa menjadi wiraswasta,” ujarnya.
Program ini diketahui telah berjalan sejak Januari 2026. Eri memastikan bahwa bagi RW yang belum mengajukan proposal pada bulan pertama, anggaran tersebut tidak akan hangus, melainkan dapat diakumulasikan pada bulan berikutnya.
“Januari kalau belum diambil bisa diambil di bulan Februari dengan kegiatan yang digabungkan. Misal uangnya Rp5 juta di Januari, Rp5 juta di Februari, maka total Rp10 juta,” jelasnya.
Strategi ini merupakan bagian dari upaya besar Pemkot Surabaya untuk menekan angka pengangguran terbuka dan kemiskinan. Sebagai pendukung, Pemkot juga telah menjalin kerja sama dengan 38 pelaku industri Hotel, Restoran, dan Kafe (Horeka) untuk menyerap produk hasil karya warga perkampungan.
“Dana tersebut nantinya dapat digunakan sebagai stimulan untuk membangun unit usaha yang dapat menyuplai kebutuhan Horeka, mulai dari daging ayam, sayuran, hingga sandal hotel,” tutupnya.( wa/an)












