Hingga saat ini, kesenian kuda lumping atau yang juga dikenal sebagai Ebeg dan Jaran Kepang tetap eksis di Jawa Tengah sebagai warisan budaya rakyat. Di Kabupaten Tegal sendiri, nama GSN sudah tidak asing lagi karena sering tampil dalam berbagai acara desa, pesta pernikahan, hingga menjadi daya tarik wisata lokal.
Dalam kunjungan wartawan ke tempat latihan pada Senin, 10 Februari 2026, tampak dukungan nyata dari pemerintah desa setempat. Latihan rutin dilakukan di lahan milik Iwan yang berukuran 20 x 40 meter, yang secara sukarela dipergunakan untuk pengembangan seni ini. Berdasarkan keterangan Solikhin dan Iwan, GSN resmi lahir pada 9 September 2023 dengan disaksikan langsung oleh Ketua RW 05, Daryono.
Meskipun harus melewati berbagai tantangan dalam perjalanannya, GSN tetap bertahan dengan mempertahankan ciri khas pertunjukan yang memadukan keindahan tari dan unsur magis.
Solikhin menjelaskan bahwa pertunjukan mereka masih mempertahankan aksi kesurupan (trance), atraksi kekebalan seperti makan beling, hingga permainan pecut yang memukau.
Dalam setiap penampilannya, sosok pawang tetap menjadi bagian krusial untuk menjaga keamanan dan kelancaran acara.
Upaya pelestarian ini membuahkan hasil positif dengan keterlibatan aktif generasi muda. Bahkan, beberapa sekolah dasar dan menengah di wilayah tersebut telah menjadikan tari kuda lumping sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib.
Keberhasilan GSN dalam menjaga warisan leluhur ini juga dibuktikan dengan raihan tiga penghargaan dalam festival kesenian di Kabupaten Tegal. Kini, kuda lumping bukan sekadar tontonan, melainkan identitas budaya yang dinamis dan sarana pendidikan nilai bagi masyarakat Jawa.( tgh)










