Surabaya, CakrawalaNews.co – Presiden Republik Indonesia telah menetapkan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2025 melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025.
Penghargaan ini diberikan atas jasa besar mendiang Presiden keempat RI tersebut dalam memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia, serta toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Menyambut penganugerahan ini, acara Tasyakuran digelar meriah di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Selasa (11/11/2025).
Istri almarhum Gus Dur, Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, menyampaikan sambutan penuh makna dalam tasyakuran tersebut. Acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, berbagai tokoh Nahdlatul Ulama, serta komunitas Gusdurian.
Dalam sambutannya, Hj. Shinta Nuriyah menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh masyarakat yang menyelenggarakan tasyakuran.
Beliau menekankan bahwa Gus Dur tidak pernah mengejar penghargaan, melainkan berjuang demi nilai-nilai universal.
“Terima kasih atas apresiasi dan penghargaannya. Gus Dur tidak pernah mengejar penghargaan. Yang beliau perjuangkan adalah kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan demokrasi. Gus Dur akan tetap menjadi pahlawan rakyat, karena pahlawan rakyat selalu hidup di hati rakyat,” ujar Hj. Shinta Nuriyah.
Lebih lanjut, Hj. Shinta Nuriyah mengingatkan kembali pesan Gus Dur tentang pentingnya nilai kemanusiaan di atas segalanya.
“Tuhan tidak akan menanyakan apa agamamu atau dari suku mana kamu berasal, tetapi apa kebaikan yang telah kau lakukan untuk sesama manusia,” tuturnya.
Ia juga menggambarkan keberagaman Indonesia sebagai taman yang indah. “Mawar tak bisa dipaksa menjadi kenanga, anggrek tak bisa dipaksa menjadi melati. Namun, perbedaan itulah yang menjadikan taman Indonesia tampak indah,” ucapnya.
Sambutan emosional tersebut ditutup dengan ajakan menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa bersama seluruh tamu undangan, sebagai simbol pentingnya menjaga keutuhan dan kebersamaan bangsa Indonesia.
Acara Tasyakuran ini turut dihadiri putri Gus Dur, Yenny Wahid, serta tokoh-tokoh penting lain seperti KH. Asep Saifuddin Halim, pengurus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, perwakilan Banom dan Lembaga PWNU Jawa Timur, dan perwakilan Komunitas Gusdurian Surabaya.( wa/inj)












