Cakrawalanews.co, – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menginstruksikan PT PLN (Persero) untuk segera mengakselerasi pembangunan pembangkit listrik sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Langkah tegas ini diambil sebagai upaya pemerintah untuk menggairahkan kembali iklim investasi di sektor energi yang tercatat mengalami penurunan tipis pada tahun 2025.
Berdasarkan data terbaru, realisasi investasi sektor ESDM tahun 2025 berada di angka 31,7 miliar dolar AS, sedikit menurun dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang mencapai 32,3 miliar dolar AS.
Bahlil mengidentifikasi bahwa pelemahan nilai investasi tersebut bersumber dari subsektor ketenagalistrikan yang hanya menyumbang 4,6 miliar dolar AS.
Sementara itu, sektor minyak dan gas bumi masih menjadi penopang utama dengan nilai 18,0 miliar dolar AS, disusul mineral dan batu bara sebesar 6,7 miliar dolar AS, serta energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) sebesar 2,4 miliar dolar AS.
Menteri ESDM menekankan perlunya kerja keras dan sinergi yang lebih kuat agar target investasi dapat tercapai secara maksimal di masa mendatang.
Dalam rencana jangka panjang, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik hingga 69,5 GW dengan komposisi utama berbasis energi hijau.
Porsi terbesar dialokasikan untuk pembangkit EBT sebesar 42,6 GW atau sekitar 61 persen, didukung oleh sistem penyimpanan energi (storage) sebesar 10,3 GW, serta pembangkit fosil sebesar 16,6 GW.
Proyek ambisius ini diprediksi membutuhkan total investasi mencapai Rp3.000 triliun dalam satu dekade ke depan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan kesiapannya untuk menjalankan mandat tersebut dengan fokus pada pembangunan infrastruktur pendukung yang masif.
Selain pembangunan pembangkit, PLN juga memprioritaskan pengembangan 48.000 kilometer jaringan transmisi dan gardu induk berkapasitas 109.000 MVA.
Realisasi proyek-proyek strategis ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional dan menurunkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga menciptakan lapangan kerja luas serta mendorong kemandirian energi dengan beralih dari energi impor ke sumber daya domestik.( wa/at)



