Sementara itu menanggapi adanya fenomena politik “kotak kosong” di Surabaya, Alfianur Rizal menekankan bahwa meskipun memilih kotak kosong adalah hak masing-masing individu, namun ia mengingatkan warga Surabaya untuk berpikir secara realistis terkait dampak dari keputusan tersebut.
Ia menjelaskan, memilih kotak kosong seperti memilih “kucing dalam karung”, yang berarti tidak mengetahui siapa yang akan menjadi pemimpin kota ke depan.
“Terkait kotak kosong, saya rasa itu hak masing-masing. Tapi bagaimana kita mampu melihat secara realita, bahwa ketika kita memilih kotak kosong, tentunya ada konsekuensi yang harus diterima oleh warga Surabaya,” ujarnya.
Baginya, memilih kotak kosong seperti halnya memilih kucing dalam karung, artinya masyarakat tidak tahu siapa yang akan menjadi pemimpin Kota Surabaya ke depan.
“Jadi, kami tentu memilih yang pasti-pasti saja. Makanya semangat kami adalah pasti Eri-Armuji,” tutup Alfianur.










