Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan bahwa penyelesaian masalah transportasi di wilayah perkotaan merupakan langkah krusial untuk menekan biaya kebutuhan hidup masyarakat.
Dalam paparannya saat Bincang Plano di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Selasa, ia menjelaskan bahwa rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk transportasi pribadi mencapai 30 persen, dan angka tersebut dapat ditekan hingga tujuh persen jika beralih ke angkutan umum.
“Bisa sampai 30 persen pengeluaran rumah tangga untuk transportasi, kalau naik kendaraan umum bisa turun menjadi tujuh persen. Itu penghematan yang luar biasa,” kata Anies.
Anies mendorong setiap kepala daerah untuk menjadikan persoalan transportasi sebagai isu utama guna mempercepat penyelesaiannya. Fasilitas transportasi yang mumpuni diyakini akan menarik minat warga meninggalkan kendaraan pribadi, yang pada gilirannya mempermudah mobilitas sekaligus mengurai kemacetan.
Sebaliknya, pembiaran terhadap kebutuhan transportasi akan memicu rutinitas yang tidak efisien dan merugikan masyarakat dari sisi finansial, terutama untuk biaya bahan bakar.
Lebih lanjut, dampak kegagalan pengelolaan mobilitas ini merembet pada masalah lingkungan, seperti meningkatnya polusi udara akibat emisi gas buang kendaraan yang terjebak macet.
“Apabila tidak segera menyelesaikan persoalan mobilitas di kota, maka kota kita menjadi tempat polusi, terbuangnya waktu, dan uang secara percuma karena mobilitas di dalam kota tidak dikelola dengan baik. Menurut saya ini harus bisa diselesaikan agak cepat,” ujarnya.
Anies menegaskan bahwa penyediaan akses transportasi merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam memenuhi hak masyarakat, terlebih di tengah arus urbanisasi yang tidak terhindarkan.
“Karena ini bentuknya adalah pemberian fasilitas. Urbanisasi berjalan masif sekarang tidak bisa dihindari, kita akan memiliki tiga perempat lebih banyak penduduk di perkotaan,” ucap dia.( wa/az)












