Cakrawalanews.co- Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, resmi meluncurkan program Sekolah Sak Ngajine (SSN) yang mengintegrasikan pembelajaran madrasah diniyah ke dalam kegiatan pendidikan di sekolah formal. Langkah ini diambil untuk memperkuat landasan pendidikan karakter dan agama bagi para siswa di wilayah tersebut.
Penasihat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah Provinsi Jawa Timur, KH Luqman Harist Dimyati, pada hari Kamis, 12 Maret 2026, mengatakan bahwa program Sekolah Sak Ngajine atau SSN merupakan bentuk implementasi dari Undang-Undang Pesantren. Melalui skema ini, pendidikan agama tidak lagi berdiri sendiri secara terpisah, melainkan menyatu dengan kurikulum sekolah.
“Program ini menjadi salah satu upaya memperkuat pendidikan keagamaan di lingkungan sekolah,” katanya saat memberikan penjelasan mengenai esensi dari peluncuran program baru tersebut di hadapan para pemangku kepentingan pendidikan.
Menurut Luqman Harist Dimyati, program tersebut sangat penting karena saat ini masih banyak umat Islam yang belum mampu membaca Alquran dengan baik. Padahal, kitab suci tersebut menjadi sumber utama ajaran dalam kehidupan umat Islam yang harus dipahami sejak dini oleh generasi muda.
Luqman Harist Dimyati juga menilai program SSN berpotensi menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia. Hal ini dikarenakan integrasi madrasah diniyah dengan sekolah formal secara terstruktur baru pertama kali diterapkan secara luas di Kabupaten Pacitan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, mengatakan bahwa program madrasah diniyah tersebut saat ini telah diterapkan di sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) di daerah itu. Pihak dinas terus memantau efektivitas pelaksanaan program di lapangan guna memastikan materi tersampaikan dengan baik.
Khemal Pandu Pratikna menyebutkan terdapat 72 SMP negeri dan swasta di Pacitan dengan jumlah siswa sekitar 13.980 orang yang mengikuti program tersebut. Seluruh siswa tersebut mendapatkan bimbingan keagamaan tambahan yang terintegrasi langsung dengan jadwal sekolah mereka.
Menurut Khemal Pandu Pratikna, kegiatan pembelajaran madrasah diniyah ini melibatkan 347 ustadz dan ustadzah sebagai tenaga pengajar ahli. Para pengajar ini didatangkan khusus untuk memastikan kualitas bacaan dan pemahaman agama siswa meningkat secara signifikan.
“Pelaksanaannya bersifat fleksibel karena penentuan jam kegiatan disesuaikan dengan kebijakan sekolah formal dan madrasah diniyah,” katanya menutup penjelasan mengenai teknis operasional program SSN di Kabupaten Pacitan. ( wa/ar)













