HMI Bedah ” Ayat-ayat yang Disembelih” untuk Lawan Kebangkitan PKI

oleh -7 Dilihat

Surabaya, cakrawalanews.co – Kisah kelam masih dirasakan keluarga besar Pondok Pesantren PSM Takeran, Magetan. Betapa tidak, Sejak tahun 1948 hingga 1965 PKI telah membunuh 14 Ulama’ yang masih merupakan keluarga besar Pondok Pesantren PSM Takeran, Magetan.

Hal itu diungkapkan Muhammad Khoirul Anam, Putera Pengasuh Pondok Pesantren PSM Takeran Magetan yang pernah menjadi sasaran pemberontakan PKI pada 1948 dalam bedah buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” Karya Anab Afifi Dan Thiwaf Zuharon di Wisma Guru PGRI, Jl. Jenderal A. Yani, Surabaya, Senin (23/04).

Menurut Khoirul Anam, peristiwa mengerikan itu menciptakan trauma yang mendalam bagi keluarga besarnya hingga saat ini.

“Mengingat peristiwa tersebut, saya masih merasa dendam dan sakit hati atas perlakuan PKI terhadap keluarga besar kami,” ucapnya pria yang akrab disapa Gus Aam ini dihadapan pera peserta.

Diskusi sekaligus bedah buku ini diselenggarakan, Senin (23/04) ini menghadirkan narasumber terpercaya. Diantaranya, Ketua Center For Indonesia Communites Studies, Arukat Djaswadi, Ibrahim Rais Ketua Yayasan Kanigoro yang merupakan korban PKI dan Muhammad Khoirul Anam, Putera Pengasuh Pondok Pesantren PSM Takeran Magetan.

Dalam paparanya, Muhammad Khoirul Anam mengungkapkan, Khirul mengungkapkan, buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” tersebut merupakan berisi tentang fakta-fakta kekejaman PKI di massanya, khususnya yang terjadi di wilayah Magetan. Hal ini karena sang penulis merupakan anggota keluarga besar Pondok Pesantren PSM Takeran Magetan.

“Kebetulan penulis bukunya, Afif Anabi masih merupakan keluarga kami. Selain untuk mengungkap kejadian masa lalu tentang keganasan PKI, buku ini pun memberikan pesan – pesan moral kepada masyarakat Indonesia dalam mengungkap sejarah kekejaman PKI di Indonesia,” ujarnya.

Terkait adanya ancaman kebangkitan PKI, saat ini, Khoirul berpendapat, bahwa hal itu sangat mungkin terjadi karena sebagian warga Indonesia, khususnya para pemuda terkesan memberikan peluang.

“Ketidakhadiran pemuda saat ini, pada akhirnya memberikan peluang kepada teman-teman yang cenderung kekirian lebih leluasa dalam bergerak. Oleh karena itu adalah bentuk kritik bahwasanya pemuda harus kembali lagi ikut dalam acara–acara dimana pembelaan terhadap golongan buruh, tani. Dan golongan marginal,”.terangnya.

Lebih jauh, Putra pengasuh Penpes PSM Takeran ini mengutarakan, bahwa salah satu pembahasan di dalam buku tersebut, mengungkap keterikatan sejarah, antara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan PKI yang pada sejarahnya PKI hendak membubarkan HMI.

 “Hari ini eks PKI menginginkan permintaan maaf dari negara kepada PKI. Jelas-jelas sebuah permintaan maaf itu tidak bisa dipaksakan. Dan ketika pada akhirnya negara meminta maaf, merupakan perlakuaan yang menyakiti banyak orang Indonesia, dan secara tidak langsung mengganggap PKI itu masih eksis keberadaannya di Indonesia, padahal PKI itu sudah bubar lama,” tegasnya.

Menurut Khoirul, pesan moral dari isi buku ini adalah mengajak pemuda untuk ikut dalam menjaga keutuhan NKRI dari serangan ideologi PKI. Harapannya HMI ikut berpartisipasi selalu dalam proses menjaga kerukunan umat dari komunisme.

Disisi lain, korban PKI Ibrahim Rais juga menungkapkan sejarah tentang rencana PKI yang bersikeras ingin membubarkan HMI. Fakta itu terungkap dalam pidato Pimpinan PKI D.N. Aidit didepan para mahasiswa CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia).

Ibrahim mengungkapkan, saat itu, Aidit mengatakan kepada mahasiswa, “Kalau sampai besok pagi kalian tidak bisa membubarkan HMI, lebih baik pakai sarung saja”.

Desakan PKI untuk membubarkan HMI pun kian menguat ketika itu. Situasi pun memanas.

Menghadapi propaganda PKI di kalangan mahasiswa tersebut, orang yang pertama yang bersuara membela HMI adalah PII (Pelajar Islam Indonesia) dan Menteri Agama Sarifudin Zuhri sekaligus tokoh NahdlatulUlama.

Gerakan PKI sebelum 1965 juga berlangsung secara massif di wilayah Kediri yang kemudian meletus peristiwa Jongkol pada tahun 1960.

Dikatakan Ibrahim Rais, saat itu BTI (BarisanTani Indonesia) yang merupakan organ propaganda PKI mendorong pemberontakan terhadap pemerintah. Hal itu yang membuat meraka berhadapan langsung dengan kelompok pemuda rakyat yang sama–sama dibekali persenjataan. “Dan kemudian pecahlah tragedi Jengkol yang berdarah itu,” ungkapnya.

Sesuatu yang patut disayangkan, lanjut Ibrahim, pasca peritiwa itu, dalam kelanjutannya, Presiden Soekarno malah melakukan pemaksaan sistem pemerintah yang bertema NASAKOM (Nasionalis, Agamis dan Komunis). Yang lebih condong pada blok PKI.

Pergolakan pra 1965 dimana provokasi kepada ulama’ dan masyarakat serta kondisi perpolitikan tanah air yang mulai tidak jelas, dimana PNI (PartaiNasionalis Indonesia) telah disusupi oleh PKI melalui Sekjennya yang bernama Ir. Surahman berlatar belakang kelompok CGMI.

“Tiga ideologi itu tidak bisa dipersatukan dalam pembangunan sebuah sistem kenegaraan. Komunisme dan agamis dua ideologi besar ini takkan pernah bisa bersatu dan akan saling bertabrakan dan bisa dipastikan NASAKOM lemah. Dan apabila nanti PKI menang dalam pemilu maka kemungkinan besar yang akan dilakukan PKI adalah dengan membumi hanguskan golongan muslim, sehingga dipastikan indonesia akan berubah menjadi negara komunis dengan poros yang dibawa Aidit adalah poros Beijing,” jelas Ibrahim.

Menurut Ibrahim, kelompok PKI lemudian bertransformasi menjadi new komunisme dengan memasuki lini di para pejuang HAM, pelopor demokrasi dan KONTRAS.

Kata dia, ada dua prespektif kejadian Kanigoro: Kanigoro I Melatih kepemudaan PKI untuk mempersiapkan generasi mudanya untuk bisa siap dalam menghadapi kelompok muslim. Kemudian Kanigoro II Menghakimi sikap kelompok muslim yang ingin melakukan perlawanan terhadap PKI.

“Hasil dari peritiwa itu menimbulkan dampak yang begitu luas salah satunya, Kyai dilecehkan, Al Qur’an di injak – injak dan para perempuan dilecehkan. Dan jika PKI berhasil memenangkan pemilu 1965 maka, ada kemungkinan besar nantinya banyak kaum muslim yang akan diberangus,” paparnya.

Sementara itu, Arukat Djaswadi menyampaikan bahwa PKI telah memberikan cerita yang buruk bagi Indonesia. Kecerdikan Aidit dalam menyusup ke dalam segala lini baik ke desa- desa maupun istana sangatlah menecengangkan segala pihak, sampai presiden soekarno mengakui dengan produk NASAKOM tersebut.

“Antara agama dan komunis jelas-jelas tidaklah bisa disatukan, kemudian komunis masuk ke dalam golongan nasionalis, sehingga membuat golongan agamis menjadi korban dari perlakuan kejam dari PKI. Banyak perlakuan yang lebih detail di jelaskan dalam buku ini sebagai bentuk kekejaman PKI,” ujar Ketua Center For Indonesia Communites Studies ini.

Arukat Djaswadi menilai ada tiga faktor yang menyebabkan gagalnya pemberontakan PKI, pertama adalah strategi yang digunakan yaitu Revolusioner, kedua Meniru Uni Soviet padatahun 1948 dan Ketiga, tahun 1965 PKI terlalu ambisius untuk segera bergerak dan menguasai pemerintahan.

Arukat Djaswadi pun menganggap, bahwa usaha kebangkitan PKI terus terjadi hingga saat ini. Hal itu bisa dilihat dari adanya gerakan mencabut TAP MPR 25 No 1966 dan tututan rehabilitasi terhadap orang–orang PKI. Ini yang namanya PKI gaya baru,” katanya.

“Gerakan gerakan sekarang sangatlah perlu diwaspadai oleh kita secara keseluruhan. Karena hari ini kalau terlalu dibiarkan maka bukan mustahil jika pemberontakan 1948 dan 1965 bisa terulang kembali lagi,”.

“Semua lini harus bisa bergerak bersama dalam menghalau gerakan tumbuhnya PKI ini, mulai dari bawah sampai istana negara. Baik di dalam maupun di mahkamah internasional. Karena kalau kondisi seperti ini dibiarkan akan menimbulkan kekacauan, dan ketika timbul kekacauan akan dimanfaatkan oleh pihak luar negara yang dapat menganggu stabilitas dan keamanan negara,” pungkasnya.

Ronald, Ketua Panitia Bedah Buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan sudut pandang baru tanpa merasa yang paling benar di tengah meraknya isu kebangkitan PKI saat ini. Sehingga, dari sini bisa diperoleh pemahaman yang objektif terhadap sejarah kelam bangsa Indonesia terkait pemberontakan PKI yang menelan banyak korban jiwa.

“HMI Cabang Surabaya berusaha mengupas secara ilmiah dengan kemasan bedah buku Ayat– Ayat yang Disembelih”. Diharapkan dengan acara diskusi sekalgus bedah buku, mampu memberikan sudut pandang baru tanpa merasa yang paling benar. Sehingga diperoleh pemahaman yang objektif,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Surabaya, Wildan Hilmi Z.A menyampaikan, acara ini tidak hanya sekedar menanggapi isu komunisme saja. Namun bagaimana memahami Pancasila khususnya sila ke 1 yang berbunyi, “Ketuhanan yang Maha Esa”. Sekaligus merefleksikan paham-paham komunisme yang tidak tampak hari ini dan mulai muncul kembali.(cn03)