Pemkot Surabaya Beri Pendampingan Siswi yang Terjun dari Lantai 2 Sekolah

oleh -105 Dilihat
Kepala DP3APPKB Kota Surabaya, Tomi Ardiyanto
Kepala DP3APPKB Kota Surabaya, Tomi Ardiyanto

Surabaya, cakrawalanews.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya langsung bergerak cepat melakukan penanganan dan pendampingan terhadap seorang siswi SMP yang nekat terjun dari lantai 2 sekolahnya. Peristiwa tersebut terjadi di salah satu SMP Surabaya sekitar pukul 07.30 WIB pada Jumat, 25 November 2022.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya, Tomi Ardiyanto memastikan, pihaknya telah memberikan pendampingan psikis baik kepada siswi maupun orang tuanya.

“Kita lakukan pendampingan psikologi kepada anak dan ibunya. Selain itu, kita juga melakukan penjangkauan terhadap permasalahan keluarga,” kata Tomi Ardiyanto saat dihubungi, Sabtu (26/11/2022).

Ia mengungkapkan, bahwa sekarang ini siswi tersebut tengah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Setelah siswi tersebut sembuh kondisi fisiknya, nantinya untuk sementara waktu akan ditempatkan di rumah aman DP3A-PPKB. “Setelah keluar rumah sakit, klien akan ditempatkan ke rumah aman atau shelter perempuan DP3A-PPKB. Hal itu untuk mempercepat proses penyembuhan trauma psikologisnya,” ujar dia.

Di tempat terpisah, Anggota DPRD Kota Surabaya, Herlina Harsono Njoto mengaku terkejut dengan peristiwa yang menimpa seorang siswi SMP di Kota Pahlawan ini. Meski begitu, dia bersyukur siswi tersebut dapat diselamatkan dan segera mendapat penanganan dari Pemkot Surabaya.

“Bersyukur bahwa siswi tersebut, putri yang kita sayangi segera mendapatkan penanganan dan terselamatkan. (Petugas) gabungan (Pemkot Surabaya) dengan sigap melakukan pendampingan dan pengobatan,” kata Herlina.

Sebagai anggota DPRD, Herlina menegaskan bakal segera melakukan rapat koordinasi bersama Pemkot Surabaya dan Perangkat Daerah (PD) terkait. Harapannya, agar anak-anak Surabaya ke depan mendapatkan pendampingan dan peristiwa semacam ini tidak terulang lagi.

“Sebagai orang tua, tentunya saya sangat prihatin ketika hal tersebut menimpa siswi yang seusia putri saya. Berdoa agar ke depan tidak lagi ada anak-anak yang melakukan hal semacam tersebut, berdoa semoga seluruh anak-anak berbahagia dan berada dalam lingkungan yang menyenangkan,” tuturnya.

Akan tetapi, keterkejutan Herlina bertambah bukan karena siswi tersebut nekat terjun dari lantai 2 sekolahnya. Melainkan semata, karena pemberitaan di media massa tentang siswi tersebut. “Keterkejutan saya semakin bertambah sore ini, bukan semata karena seorang siswi nekat terjun. Tapi karena banyaknya pemberitaan tentang siswi tersebut,” ujar kandidat Doktor Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Sebagai seorang Psikolog, Herlina pun memohon kepada media agar pemberitaan yang terus-menerus terkait siswi tersebut dapat disudahi. Artinya, peristiwa itu tidak dijadikan pemberitaan yang serial. “Ada fisik dan psikis seorang siswi yang perlu kita pulihkan, kita dampingi kita dengarkan, perlu kita bersamai dalam melewati masa-masa yang mungkin terasa sangat berat untuk siswi tersebut,” pesan dia.

Apalagi, kata dia, ada ratusan pelajar di sekolah siswi serta ribuan anak-anak Surabaya lain yang turut membaca pemberitaan tersebut. Maka menurutnya, seluruh pihak diperlukan untuk terlibat dalam melindungi mental siswi tersebut. Juga, bagaimana membangun psikisnya dengan hal-hal yang positif.

“Ini bukan perkara menutup-nutupi sebuah masalah agar tidak muncul di media, publikasi tentang masalah ini memang sudah mencuat di mana-mana koreksi yang konstruktif tentunya akan dilakukan. Tapi tentunya kita semua tidak ingin siswi tersebut, bahkan para pelajar di sekelilingnya merasa trauma, atau bahkan trauma sekolahnya menjadi dikenal karena permasalahan ini,” terangnya.

Herlina pun kembali berpesan, bahwa ada fisik dan psikis korban yang butuh dipulihkan. Termasuk juga ada ribuan pelajar lain yang harus dijaga psikisnya. Ini diharapkan agar mereka terhindar dari trauma dan dapat menuntut ilmu dengan bahagia.

“Mari berikan waktu dan ruang bagi keluarga siswi tersebut, bagi pihak-pihak yang berwenang, mendampingi dan memulihkan kondisi korban dalam heningnya pemberitaan. Berikan waktu dan ruang, perhatian pada pelajar yang lain agar mereka menjalani masa-masa sekolah sebagai masa yang bahagia,” pungkasnya.