Ketika Para Delegasi “Terhipnotis” Keramahan Warga Surabaya. Ada Banyak Kata-Kata Indah untuk Surabaya

oleh -4 Dilihat
Delegasi asal Ekuador
Andrea salah seorang delegasi asal Ekuador

Surabaya, cakrawalanews.co – Meskipun Kota Surabaya tak dianugrahi potensi wisata yang bersifat alam. Namun, Surabaya mampu membuat para tamu baik lokal mapun mancanegara yang datang berkunjung, kagum dengan kota yang berjuluk Kota Pahlawan ini.

Hal tersebut nampaknya terbukti saat kota yang berulang tahun pada 31 Mei ini menjadi tuan rumah kegiatan Prepcom 3 UNHabitat III yang digelar pada tanggal 25 hingga 27 Juli lalu.

Dimana Setidaknya ada sekitar 4500 delegasi dari 130 negara hadir di Kota Surabaya, mengaku kagum dengan kota yang menjadi ibu Kota dari Provinsi Jawa Timur ini.

Mengapa Surabaya yang notabene sebagai kota metropolitan ini mampu membuat para tamu tersebut kagum? Apa sih yang membuat mereka begitu kagum dengan Kota Surabaya?.

Keramahan warga, Ya…Benar, keramahan warga Surabaya yang rupanya menjadi penyebab para delegasi atau tamu yang berkunjung ke Surabaya menjadi jatuh cinta.

Terbukti Secretary General of Habitat III, Joan Clos menyampaikan kebanggaannya terhadap Kota Surabaya yang disebutnya sangat sukses dalam menggelar agenda The Third Session Preparatory Committe (Prepcom) 3 Habitat III.

Menurutnya, parameter sukses Surabaya sebagai tuan rumah, selain diukur dari banyak nya delegasi yang datang, juga dari sambutan hangat yang diperlihatkan warga Kota Surabaya.

Joan Clos mengatakan, yang paling membanggakan bagi pria berkebangsaan Spanyol ini adalah sambutan yang ditunjukkan warga Surabaya. Baik itu di jalan-jalan, di hotel, termasuk juga sambutan dari Pemerintah Kota Surabaya (Pemkot) Surabaya, sangat luar biasa.

“Ini sangat luar biasa. Kami sangat senang berada di Surabaya. Saya sangat berterimakasih karena warga Surabaya sangat ramah. Juga relawan, pelajar dan pelayanan di hotel juga ramah. Akan ada banyak kata-kata indah yang kami sampaikan tentang bagaimana Surabaya telah menyambut kami dengan baik,” ujarnya dengan wajah nampak sumringah.

Benar saja, yang disampaikan oleh Joan Clos, melalui Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya Surabaya dibuat seperti layaknya kota yang banyak menyimpan kenangan bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Betapa tidak, Pemkot Surabaya telah menyiapkan banyak agenda menarik untuk menyambut para delegasi tersebut. Mulai dari sambutan welcome dinner yang dikemas begitu apik dengan rangkaian pertunjukan kesenian tradisional, parade perahu naga, festival lampion hingga memberikan kejutan kunjungan paket wisata ke kampung-kampung unggulan di Surabaya.

Pesona akan keramahan warga Surabaya pun tak hanya dirasakan oleh Joan Clos saja. Seperti halnya Amanda Mkhwanazi, Delegasi asal Afrika Selatan ini mengaku bahwa ia telah merasakan keramahan warga Surabaya sejak ia pertama datang dan melakukan perjalanan dari bandara Juanda.

“ Saya begitu sampai di bandara dan melakukan perjalanan darat menuju hotel saya sudah merasakan bahwa masyarakat Surabaya akan memberikan sambutan hangatnya kepada saya. Dan ternyata benar saja, sesampainya saya dihotel mereka menyambut saya dengan begitu ramah “ ujarnya.

Dibantu seorang penerjemah dari bagian Humas Pemkot Surabaya Jefry, perempuan yang menjabat sebagai International Relations and Coorporation South Africa ini mengatakan bahwa ia akan mengajak keluarganya untuk kembali lagi ke Surabaya dalam rangka liburan.

“ Saya akan kembali lagi ke Surabaya, tapi saya tidak sendiri saya akan ajak keluarga saya untuk kembali ke Surabaya hanya untuk berlibur “ imbuhnya.

Memang benar saja, keramahan warga kota Surabaya ini tak pernah difikirkan oleh para delegasi yang hampir semua tidak pernah berkunjung ke Surabaya sebelumnya.

Bahkan, Surabaya yang dikenal sebagai kota pelabuhan, rupanya memiliki warga yang begitu ramah.

“ Saya baru melihat masyarakat yang begitu ramah. Saya tahu Surabaya adalah kota pelabuhan yang begitu aktif, dan ternyata masyarakat Surabaya sangat ramah dalam menyambut kami “ tutur Bruce Stiftel, delegasi dari Atlanta, USA yang juga seorang profesor ini.

Keramahan warga Surabaya dirasakan oleh para delegasi tak hanya di hotel tempat para delegasi beristirahat, keramahan warga Surabaya juga dirasakan oleh para delegasi ketika berada ditempat umum.

Andrea Herrera, gadis cantik yang menjadi delegasi asal negara Ekuador ini salah satunya yang merasakan keramahan warga Surabaya saat di tempat umum.

Gadis yang menggunakan kaca mata yang cukup modis tersebut mengaku merasakan keramahan warga Surabaya saat ia berada di ruang publik.

“ Masyarakat Surabaya begitu ramah, selalu tersenyum, selalu menyapa saat saya berpapasan di zebra cross. Dan itu selalu saya rasakan hingga saya sampai di hotel. Saya begitu nyaman berada disini meski jalananya macet seperti di negara saya “ tuturnya.

Berbeda dengan Andrea, Laila delegasi asal negara Turki lebih beruntung lagi bisa merasakan keramahan warga Surabaya ditengah suasana kampung Ketandan, yakni salah satu kampung unggulan yang didesain oleh Pemkot Surabaya untuk menyambut secara khusus para delegasi.

Laila saat berfoto bersama warga kampung Ketandan
Laila (Tengah) saat berfoto bersama warga kampung Ketandan

Kampung Ketandan merupakan kampung yang berada di sebelah Barat Jalan Tunjungan terletak di Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng.

Dimana kampung Ketandan merupakan sebuah kampung lawas yang menjadi saksi bisu sejarah panjang perjuangan kota Surabaya dan yang masih bertahan melawan modernisasi.

Meskipun terhimpit berbagai bangunan tinggi namun, Kampung Ketandan atau yang dahulu bernama Kentandang ini merupakan salah satu kampung tertua di Surabaya.

Ditengah Kampung Ketandan ini Laila merasakan betul keramahan warga Surabaya, hingga ia nampak begitu akrab dan langsung bisa berbaur dengan warga saat ia berkunjung kesana.

“ Saya begitu kagum dengan masyarakat disini. Mereka begitu ramah, saya sangat senang dan benar-benar merasakan itu. Saya seperti menjadi bagian dari mereka dan saya tidak pernah merasakan itu sebelumnya. Lihatlah saya begitu dekat dengan mereka. Saya sangat senang sekali “ terangnya yang saat itu diterjemahkan oleh seorang penerjemah dari kementrian PUPR.

Penulis : MN Hadi