Keramahan Surabaya dan Penataan Kenjeran jadi Pujian untuk Surabaya

oleh -12 Dilihat

Surabaya, cakrawalanews.co – Secretary General of Habitat III, Joan Clos menyampaikan kebanggaan nya terhadap Kota Surabaya yang disebutnya sangat sukses dalam menggelar agenda The Third Session Preparatory Committe (Prepcom) 3 Habitat III. Menurutnya, parameter sukses Surabaya sebagai tuan rumah, selain diukur dari banyak nya delegasi yang datang, juga dari sambutan hangat yang diperlihatkan warga Kota Surabaya.

Joan Clos mengatakan, hingga hari ini, Senin (25/7/2016), ada lebih dari 3500 partisipan dan delegasi yang hadir dalam konferensi The Third Session Preparatory Committe for UN Habitat III (PrepCom3). Bahkan, dia meyakini, jumlah itu masih akan terus bertambah karena masih banyak delegasi yang belum masuk. Dari jumlah itu, ada 1.886 anggota PBB yang hadir.

Namun, yang paling membanggakan bagi pria berkebangsaan Spanyol ini adalah sambutan yang ditunjukkan warga Surabaya. Menurutnya, sambutan kepada para delegasi, baik itu di jalan-jalan, di hotel, termasuk juga sambutan dari Pemerintah Kota Surabaya (Pemkot) Surabaya, sangat luar biasa.

“Ini sangat luar biasa. Acara ini sangat sukses. Kami sangat senang berada di Surabaya. Saya sangat berterimakasih karena warga Surabaya sangat ramah. Juga relawan, pelajar dan pelayanan di hotel juga ramah. Akan ada banyak kata-kata indah yang kami sampaikan tentang bagaimana Surabaya telah menyambut kami dengan baik,” ujar ketika jumpa pers di ruang press centre, Grand City Convention and Exhibition Centre, Surabaya, Senin (25/7) siang.

Sementara Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono yang juga menjadi narasumber dalam agenda jumpa pers tersebut, memberikan pujian kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang dinilainya berhasil dalam menata kawasan Kenjeran menjadi lebih cantik dan berdaya secara ekonomi.

Menteri kelahiran Surakarta ini mengatakan, langkah Pemkot Surabaya dalam menata kawasan Kenjeran tersebut, bisa menjadi contoh bagus bagi negara-negara di dunia dan juga pemerintah daerah. Bahwa, penataan sebuah kawasan haruslah terencana dan mengedepankan perbaikan.

“Penataan kawasan Kenjeran ini menjadi contoh bagus. Ini warga nya tidak dipindah, tetapi tempatnya yang diperbaiki. Sanitasi nya diperbaiki. Juga kawasan ekonomi nya dibangun. Seperti ada tempat kuliner bagus dan juga Jembatan Suroboyo dengan air mancur menari nya,” tegas Menteri Basuki.

Menteri PUPR memang diajak Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini untuk melihat langsung “wajah baru” Kenjeran pada Minggu (24/7) malam. Selain menyaksikan eksotisme air mancur warna warni menari di Jembatan Suroboyo, menteri pemegang gelar S3 Teknik Sipil Colorado State University, Amerika Serikat ini juga diajak menikmati ikan bakar di Sentra Ikan Bulak (SIB).

Disampaikan Menteri Basuki, di kawasan Kenjeran tersebut, seandainya yang dibangun adalah jalan tol (bukan Jembatan), maka penduduk di sana bakal dipindah dari tempat tinggalnya.

“Tetapi Bu Risma punya rencana lebih baik. Ini menjadi contoh penataan kawasan yang terencana,” sambungnya.

Menurut menteri kelahiran 5 November 1954 ini, beberapa tahun lalu, bila diprosentase, ada 20 persen saja pembangunan yang tidak direncanakan. Selebihnya pembangunan yang dilaksanakan. Sementara di tahun ini, prosentase pembangunan yang tidak direncakanan itu jadi 50 persen. Ketidakmampuan pemerintah daerah dalam mengatur pembangunan lebih awal inilah yang disebutnya menjadikan masalah urbanisasi di perkotaan menjadi lebih buruk.

Apa yang disampaikan Menteri PUPR tersebut selaras dengan yang disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika acara Welcoming Ceremony Habitat III Prepcom 3 di Plenary Room, Grand City Convention & Exhibition, Senin (27/7) pagi.

Menurut Wakil Presiden, sekira lima dekade silam, sebanyak 70 persen penduduk Indonesia masih tinggal di perdesaan. Hanya 30 persen yang tinggal di perkotaan. Namun, kini semakin banyak warga tinggal di kota. Bahwa urbanisasi tidak bisa dicegah. Sebab, bila pertanian di desa gagal, maka orang desa akan memilih pindah ke kota. Pun, ketika pembangunan di desa berhasil, orang tertarik untuk pindah ke kota.

“Tantangannya adalah kota harus menjadi permukiman yang baik dan menyenangkan bagi semua orang sehingga bisa berpikir positif. Kota itu harus inklusif dan mengakomodasi semua orang,” tegas Wapres.

Hari pertama The Third Session Preparatory Committe for UN Habitat III (PrepCom3) berlangsung padat. Ada banyak agenda dibahas. Diantaranya public spaces and civil society in the aftermath of the Nepal earthquake, youth in action-partnering for change dan the role of local and regional governments in implementing the new urban agenda. Para delegasi juga membahas usulan mengenai masalah urbanisasi, atau pembangunan perkotaan berkelanjutan.

Para peserta akan membentuk konsensus atas Agenda Baru Perkotaan (New Urban Agenda) yang akan disahkan di Quito, Ekuador, Oktober mendatang. Kesepakatan ini akan disebut sebagai Deklarasi Quito.

“Penyelennggaraan Prepcom 3 menuju konferensi habitat III di Kota Surabaya menjadi momentum bagi negara-negara dunia untuk belajar dan mendapatkan inspirasi. Mari kita semua belajar dan terinspirasi dari Surabaya dan Indonesia dalam mewujudkan agenda pembangunan perkotaan yang ideal dalam 20 tahun ke depan,” imbuh Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono. (mnhdi/cn02)