Lesbumi PCNU Surabaya Nobar Film Kalam Kalam Langit

oleh -6 Dilihat
Surabaya, cakrawalanews.co – Film bertajuk Kalam Kalam Langit (KKL) menginspirasi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya, untuk mengadakan nonton bareng.
Hadirnya para pemerhati serta pelaku seni budaya itu, pengurus lembaga serta badan otonom lain PCNU, termasuk NU Urban memadati cineplex di salah satu pusat perbelanjaan pusat kota, tadi malam (18/4).
Karya besutan sutradara Tarmizi Abka ini merupakan drama religi. Sebagaimana naskah KKL yang ditulis Faozan Rizal merupakan adaptasi dari novel karya Pipiet Senja dengan judul yang sama. KKL bercerita tentang kisah kearifan masyarakat yang berdasarkan naungan pesantren dan nilai nilai Islam yang kuat di wilayah Lombok Barat.
Salah satu tokoh dalam film ini adalah Jafar. Dia selalu diperingatkan ayahnya agar tidak memperjualbelikan kalam kalam Illahi demi mendapatkan popularitas di kawasan pesantren. Selain itu agar Jafar tidak mengejar hadiah dari upayanya itu. Salah satunya, beasiswa dari sebuah produk yang ditawarkan pesantren.
Jafar kecil tumbuh hingga dewasa terus memperjuangkan cita cita dan cintanya. Ditengah tengah kehidupan pesantren dengan beragam karakter yang dimiliki oleh penghuninya. Santri pun juga manusia, ada saja yang nyeleneh, tega menyuap untuk kepopularitasannya dan meggapai apa yang ia harapkan menjadi juara MTQ.
Film yang dibintangi Elyzia Mulachela, Dimas Seto, dan Ibnu Jamil ini merupakan film yang sangat menyentuh. Dengan nilai religius yang terkandung didalamnya, dapat membuat bagi siapa saja yang menontonnya dengan penuh khayat pasti bercucuran air mata.
Perjuangan Jafar demi meraih juara MTQ dilalui dengan banyaknya problematika masalah dan ada pihak pihak lain yang melakukan cara kotor demi meraih kemenangan.Walaupun niat Jafar sudah bulat tapi perjuangan yang harus ia lakukan tidaklah mudah. Jafar yang juga harus menjaga kehidupan di pesantrennya juga harus menerima kenyataan tentang adanya santri yang berani menyuap demi popularitas dan hadiah.
Santri yang juga adalah manusia biasa ternyata memiliki kelemahan, hal tersebut membuat Jafar harus berjuang keras dan dikarenakan keadaan sang ayah yang terus sakit-sakitan .
Pesan dari film garapan Rumah Produksi Putaar Films Production ini yang coba ditanamkan pengurus Lesbumi PCNU ke anggota, yang diteruskan ke keluarga serta kerabat lainnya.
“Film ini dibuat  hasil kerja bareng Pimpinan Pusat Jami’atul Qurro Wal Huffadz serta Lesbumi PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Kami malam ini (tadi malam) nonton bareng juga atas instruksi PBNU,” kata Ketua Lesbumi PCNU Surabaya Hasyim Asy’ari, Senin (18/04) malam.
Cak hasyim, sapaannya, mengulas sedikit cerita pasca nonton bareng. “Film ini menggambarkan antara ngaji yang dilombakan dengan yang betul-betul ngaji. Pesan yang juga disampaikan dalam film ini adalah sisi ibadah yang harus tetap ditonjolkan, kendati dalam perlombaan ngaji,” ulas Hasyim.
Untuk mengedepankan kebersamaan, mereka yang ikut nobar diwajibkan menanggung shodaqoh pembelian tiket. Artinya, tidak ada “bos” diantara mereka, apalagi sponsor. “Nobar ini juga untuk menguatkan kebersamaan,” imbuh alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel ini.
Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri menyebut jika nonton bareng ini bentuk support pada kegiatan dakwah. Terlebih dakwah dengan cara modern seperti halnya melalui sinematografi atau perfilman. “Dengan menonton film ini, kami mensupport cara dakwah yang modrn ini,” tutur Muhibbin, tadi malam.
Paska menonton, Muhibbin ingin Nahdliyin bisa menyampaikan kembali pada keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), tentang pesan keberadaan seorang anak untuk bisa iqro’(membaca) dan menjadi hafid (penghafal) Al’Quran.Muhibbin Zuhri membenarkan keberadaan surat himbauan menonton dari PBNU. Surat itu bernomor 428/C.I.34/03/2016, ditujukan ke PWNU dan PCNU se Indonesia. Surat ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj dan Sekretaris PBNU Helmy Faishal Zaini.
“PBNU ingin Nahdliyin menyampaikan lanjut pesan dari film ini pada anak-anaknya, pada keluarganya,” pungkas Cak Muhibbin. (*)