Komisi A dorong Perwali tentang pemilihan RT, RW, LMPK segera disahkan

oleh -4185 Dilihat

Surabaya, cakrawalanews.co – Komisi A DPRD Kota Surabaya mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk segera mengesahkan perwali tentang pemilihan RT, RW dan LMPK.

Desakan itu, diutarakan oleh anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i, pasalnya, pemilihan tingkat RT, RW dan LMPK akan digelar sekitar bulan november atau desember 2022 mendatang.

“Rencananya sekitar bulan november atau desember sudah bisa dimulai,” kata Imam.

Oleh karena itu, lanjut Imam, ia meminta kepada bagian hukum untuk segera mengesahkan pembahasan draf perwali tersebut.

“ Biar segera kita mulai pemilihan tingkat RT, RW maupun LMPK ini,” lanjutnya.

Politisi Nasdem ini juga membeberkan masih terjadi silang didalam pembahasan draf perwali tersebut. Dimana dalam draf Perwali terbaru ini, nantinya RT, RW dan LMPK yang sudah dua kali menjabat maupun berturut turut tidak boleh mencalonkan kembali kecuali dalam situasi khusus

“Artinya memang tidak ada calon dan itu pun harus kita lihat apakah betul tidak ada calon atau oleh panitia pemilihan sengaja dibuat tidak ada calon sehingga orangnya yang dihadirkan,” katanya

Imam mengungkapkan, hal itu sempat muncul ada suara beda pendapat antara biro hukum Pemkot dengan bagian Pemerintahan.

“Biro hukum Pemkot tidak setuju kalau aturan 2 kali (menjabat) itu di nolkan di dalam draf perwali itu,” katanya

Menurut Imam, berarti orang yang sudah pernah dua kali menjabat RT, RW maupun LMPK itu dianggap nol dan sedangkan dari bagian pemerintahan minta di nolkan

“Itu saya enggak tau ini pesanannya siapa, tapi saya yakin ini untuk kepentingan 2024 lah,” katanya

Atas polemik itu, lanjut Imam, dimintakan second opinion ke biro hukum provinsi dan ternyata biro hukum provinsi sama dengan yang diinginkan

“Sebenarnya ini bukan yang diinginkan tapi secara hukum logikanya seperti itu,” ungkapnya

Bahwa, kata Imam, siapapun nanti yang sudah dua kali berturut turut menjabat maupun tidak berarti tidak boleh dipilih kembali.

“Itu sama dengan suara kami mayoritas di komisi A, itu yang paling masuk akal,” katanya

Imam melanjutkan, pemilihan ditingkat RT, RW dan LMPK ini naantinya, berjenjang seperti RT dipilih oleh warga, RW dipilih oleh RT yang juga baru terpilih bukan RT yang lama.

“Untuk RW itu dipilih oleh RT yang baru terpilih, satu RT, satu suara ” terangnya

Untuk LMPK, kata Imam, dipilih oleh RW, RW yang baru terpilih yang berjenjang “Jadi berjenjang seperti itu,” paparnya

Terkait syarat calon tidak sesuai dengan ijasah minimal SMA di dalam draf perwali ini, Imam mengungkapkan, sempat muncul aturan yang menyebutkan hal itu yang akan dimintakan rekomendasi dari kelurahan

“Kami menolak dan tidak setuju dengan bagian itu (Draf pasal red) ,” tegasnya

Oleh karena itu, Imam mempertanyakan apakah otoritas kelurahan sebesar itu menyetarakan untuk menentukan orang yang belum mempunyai ijasah SMA untuk maju menjadi calon.

“Pasal itu kemungkinan akan di delete karena peralihan atau definisi dari pasal itu tidak usah disebutkan,” katanya

Kecuali, menurut Imam, kalau tidak ada calon lain meskipun orang itu ijasahnya tidak sampai SMA hal itu diperbolehkan

“Ya sudah itu diperbolehkan,” katanya

Menurut Imam, hal itu tidak boleh diatur oleh kelurahan yang nanti memberikan rekomendasi kalau calon yang tidak punya ijasah SMA

“Itu yang kami tidak setuju, dan otoritas kelurahan itu, menurut kami pertanyakan lurah kok sampai seperti itu,” pungkasnya.(adv)

No More Posts Available.

No more pages to load.