cakrawalanews.co
Headline Humaniora Indeks

Bacarita Opat Menembus Tembok Tabu Lecut Semangat Majukan Indonesia

Mariana Yunita Hendriyani Opat
Mariana Yunita Hendriyani Opat
Sebuah sore hari waktu Indonesia bagian tengah terdengar runtutan narasi yang dipenuhi dengan riuh suara gelak tawa anak-anak dan para remaja itu ternyata bersumber dari sekelompok pemuda asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah mendongeng.

Suasana sederhana namun mampu mejadi sebuah titik awal dalam perjuangan dalam memberikan edukasi dan pemahaman tentang sebuah hal yang masih dilindungi oleh kokohnya tembok tabu.

“Dengan cara seperti ini kami merangkul anak  remaja untuk memahami tubuhnya sendiri,” ujar Mariana Yunita Hendriyani Opat,  Pengedukasi Hak Kesehatan Seksual Anak, yang sekaligus juga pendiri Tenggara Youth  Community. 

kegiatan itu bernama Bacarita Kespro yang merupakan cetusan dari Mariana atau yang akrab disapa dengan Tata bersama dengan rekannya mendirikan  Tenggara Youth Community.

Kegiatan itu berisi edukasi yang disampaikan dengan metode pembelajaran inovatif  seperti mendongeng, permainan edukasi, dan penggunaan alat peraga. 

 

Kegiatan Bacarita Kespro yang dilakukan Mariana Yunita Hendriyani Opa
Kegiatan Bacarita Kespro yang dilakukan Mariana Yunita Hendriyani Opa

Bacarita Kespro berasal dari kata bacarita dalam bahasa Melayu Kupang berarti ‘bercerita’.  Target program ini adalah remaja yang berasal dari kelompok poor, marginal, social  excluded, dan underserved.

Opat mempunyai alasan tersendiri sehingga ia bersama dengan komunitas antar desa untuk memberikan edukasi mengenai kesehatan seksual dan  reproduksi untuk anak remaja.

“Saya menemukan fakta sebagian besar dari 500 remaja di NTT tidak memiliki akses  terhadap sumber informasi pendidikan seksual dan komunitas untuk menceritakan  persoalan pendidikan seksual. Angka ini selaras dengan beragam persoalan lainnya seperti  kasus pelecehan seksual yang masih kerap terjadi atau kehamilan luar nikah di kalangan  remaja NTT,” tutur sosok kelahiran Kiupukan pada 3 Juli 1992 ini.  

Melihat banyaknya anak dikeluarkan dari sekolah saat menghadapi kasus kehamilan di luar  pernikahan, serta minimnya pemahaman orang tua mengenai hak dan kebutuhan remaja,  Tata menggerakkan programnya untuk memberikan komunikasi dua arah, dimana peran  orang tua dan anak diikutsertakan.  

 

Tidak semua orang menyadari pentingnya pendidikan seksual usia dini. Hambatan utama dalam program ini adalah tembok tabu dalam konteks pendidikan seksual. 

 

Bahkan, untuk  bercerita kepada lingkungan terdekat seperti keluarga dan saudara, tidak semua remaja  bisa melakukannya. Dan tidak mudah pula meyakinkan komunitas, termasuk lingkungan  gereja mengenai pendidikan seksual 

Salah satu indikator keberhasilan program tersebut adalah ketika orang tua mulai terbuka  terhadap pendidikan seksual. Tidak hanya menjelaskan kepada anaknya, tetapi juga orang  tua lain.

Tata merasa, mereka bisa dikatakan berhasil jika pendidikan seksual dibicarakan  secara terbuka di lingkungan keluarga. 

Dalam konteks paling pragmatis, Tenggara Youth Community juga mengukur keberhasilan  dengan pemahaman materi ajar. Misalnya, mereka membuat kuis setelah penyampaian  materi dan jika pemahaman telah berubah, Tata mengatakan hal itu bisa menjadi indikator  keberhasilan program.

Saat ini, program Bacarita Kespro telah merangkul 2.000 remaja dari 43 komunitas di  provinsi seluruh NTT. Setiap sesinya, Tata beserta rekan-rekan fasilitator Tenggara Youth  Community dapat mengajak 20 anak untuk bergabung di kelas secara langsung dan di  dalam jaringan. 

Selama pandemi, program tersebut juga menyiarkan materi pembelajaran untuk anak-anak  muda tentang kekerasan gender dan pendidikan seks usia dini melalui media sosial seperti  Facebook. Tujuannya agar konten mengenai kesehatan seksual bisa dipahami dan mudah  masuk ke dalam pikir para remaja. 

Mereka juga membuka konseling remaja jika mereka menghadapi kasus seperti kekerasan  dalam pacaran. Bahkan, mereka juga membantu remaja jika kasusnya berlanjut termasuk  untuk mendapatkan pendampingan hukum dari lembaga di bidang hukum seperti LBH Apik. 

Jangkauan ini mencakup Kota Kupang, Desa Oesao di Kabupaten Kupang, Desa Neke di  Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Pulau Kera di Kabupaten Sumba Timur bersama  Kopernik. Selain itu, untuk meluaskan akses edukasi pendidikan seksual, mereka  berkolaborasi dengan BKKBN, Komisi Penanggulangan AIDS serta Woman for Indonesia. 

Hal tersebut yang membawa dirinya terpilih sebagai penerima apresiasi Semangat Astra  Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards tahun 2020 bidang kesehatan. Sebagai salah satu  juri, Prof. Nila Moeloek dalam acara 11th SATU Indonesia Awards 2020 pada akhir Oktober  memberikan penjelasan terkait kesehatan reproduksi adalah hal yang fundamental.  

“Apresiasi SATU Indonesia Awards ini menjadi bahan pendukung gerakan kami untuk terus  dapat merangkul anak remaja dalam kesehatan reproduksi, harapan kami, kami dapat  merangkul komunitas disabilitas,” ujar Tata.(mn hadi)