cakrawalanews.co
Cakrawala Jateng Indeks

Pengarus Utamaan Kebudayaan Dalam Pembangunan Kab. Tegal

Oleh: Ki Sengkek Suharno *)

Bagong lagi lagi berulah dengan Kelakuanya meminta Pengusa Amarta yaitu para Ksatria Pandawa untuk datang ke Karang Kadempel untuk mendukung Semar yang sedang sibuk membangun sebuah Kahyangan sebagai Sarana pengejawantahan Semar dalam menjalani Karmanya dalam kehidupan.

Tidak cukup dengan itu dia juga memaksa Pandawa Membawa dan menyerahkan Senjata Jamus Kalimasada dan Payung Tunggul Naga serta Tombak karaweleng sebagai sarana yang merupakan Pusaka Pandawa untuk membangun Kahyangan sesuai keinginan Semar

Menurut Bagong untuk  dapat mewujudkan tata Kehidupan yang baik harus dibangun sebuah sistem dan tata kosmis berupa Kahyangan yg didalamnya mengandung banyak sekali makna dan tata nilai serta hubungan antara Tuhan sebagai Pencipta dan Manusia sebagai Mahluk ciptaanya.

Krisis dan bencana yang terjadi selama ini menurut bagong adalah dikarenakan Manusia sudah lupa kodratnya sebagai Mahluk dan berbuat semaunya sendiri tidak lagi mengerti tentang Sangken Paraning Dumadi, Jumbuhing Kawula Gusti, Manunggaling kawula gusti dan Kasampurnaning Dumadi yang menjadi dasar menjalani hidup dan kehidupan.

Upaya pengarus utamaan kebudayaan dalam pembangunan sebagai Wujud pengejawantahan cita cita bersama menuju kab. Tegal yang mandiri sejahtera dan berbudaya ibarat membangun sebuah Kahyangan seperti yg Semar lakukan di Karang Kadempel.

Banyak sekali yang harus dikerjakan dan dipersiapkan untuk menuju kesana serta memerlukan kerja keras dari seluruh stokeholder yang ada baik dari pelaku dan pegiat budaya, Pemerintah selaku pengambil kebijakan serta dukungan Masyarakat sebagai Subyek kebudayaan.

Diperlukan pemahaman tentang asal muasal dan tujuan Pembangunan Tegal yang bersendikan budaya itu sendiri sebagai Sangken paraning Dumadi Kebudayaan, Penyelarasan tindakan pelaku dan pegiat budaya dengan Pemerintah dalam hal ini pemkab dan DPRD sebagai Jumbuhing kawula gustinya, sinergi dan bersatunya Praktisi Kebudayaan dan pemangku kebijakan sebagai wujud manunggaling Kawula Gusti serta Pemahaman bersama tentang kesempurnaan kehidupan yang berbudaya sebagai Kasampurnaning Dumadinya.

Maka untuk dapat mewujudkan semua itu diperlukan sarana dan senjata yamg harus dipersiapkan berupa inventarisir Obyek kebudayaan yg menjadi lambang Pedoman hidup yg menggunakan tatanan yang menjadi ciri khas dan trademark serta ikon budaya tegalan sebagai Jamus Kalimasadanya. *(10 Pokok Pikiran Kebudayan Tegal)

Selanjutnya membuat produk hukum berupa Perda dan Perbub sebagai lambang Kepercayaan kepada Pemerintah yang tidak hanya menjadi juklak dan juknisnya tapi menjadi Perlindungan terhadap upaya pengejawantahan UU no.5 tahun 2017 tentang pelestarian budaya sebagai Payung Tunggul naganya.

Dan yg tidak kalah pentingnya adalah Pelembagaan Yaitu dengan Mendirikan Dewan Kebudayaan sebagai Rumah Besar Kebudayaan Lambang Fokusnya Cipta rasa dan karsa yang menjadi Pusaka hidup dalam mencapai Cita – cita luhur sebagai Tombak Karawelengnya.

Kedepan Komunikasi antar praktisi dan Pemerintah harus terus dilakukan secara intensif agar tercipta frekuensi dan mindset yang sama tentang arti makna Arah dan tujuan dari Pelestarian Kebudayaan supaya tidak ada miss komunikasi dan kesalahpahaman dalam Pembangunan Kab. Tegal yang berlandaskan kebudayaan.

Maka Pembentukan Dewan Kebudayaan sebagai Rumah Besar Kebudayaan bukan hanya penting tapi menjadi sebuah kebutuhan yang harus segera di laksanakan agar bisa terus bersinergi dan menjadi pengawal serta pemangku Kebijakan menuju Kabupaten Tegal yang bermartabat religius mandiri sejahtera dan berbudaya.

Percayalah….
Tidak ada yang tdk mungkin jika kita mau duduk bersama memikirkan membahas dan mengerjakanya.
Apalagi kok cuma Perda dan Perbub serta Dewan Kebudayaan, Kahyangan sejati mampu kita wujudkan….

Sing penting aja klalen :
TEGAL TINGKAH LAKUNE ISLAM PEDOMANE
Sebab :
Lahire rebana bukan untuk membunuh dan menghancurkan terbang Jawa…
Lahire peci bukan untuk membunuh dan menghancurkan blangkon…
Lahire Islam bukan untuk membunuh dan mengahancurkan kebudayaan
Tapi harus seiring sejalan….

*) Penulis Ki Sengkek Suharno adalah
Dalang Wayang Kebangsaan
Wakil Ketua bidang Seni Budaya dan Olahraga PC GP Ansor Kab. Tegal