Wali Kota Risma Beri Bantuan Istri dan Anak-anak KPPS yang Meninggal

April 30, 2019
0

Surabaya, cakrawalanews.co – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini benar-benar berduka atas meninggalnya beberapa petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KKPS) di Surabaya. Sebagai perwakilan pemerintah, ia pun hadir dan mengunjungi atau takziah ke keluarga-keluarga petugas KPPS yang diduga meninggal setelah menjalankan tugas saat pemilu.

Sudah tiga hari berturut-turut Wali Kota Risma bersama jajarannya keliling mengunjungi rumah keluarga petugas KKPS yang meninggal.

Di hari ketiga ini, Sabtu (27/4/2019), Wali Kota Risma giliran mengunjungi keluarga almarhum Hariono yang bertugas di TPS 45, Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo, Surabaya. Almarhum merupakan petugas KPPS bagian ketertiban di TPS 45.

Tiba di rumah keluarga almarhum Hariono Jalan Jugruk Rejosari III/10, Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo, Wali Kota Risma dan jajarannya disambut hangat oleh pihak keluarga.

Saat itu, wali kota perempuan pertama diKota Surabaya itu menyampaikan belasungkawa dan memberikan bantuan kepada keluarga almarhum.

Selain itu, Wali Kota Risma juga memastikan bahwa Pemkot Surabaya siap membantu pendidikan anak almarhum. Bahkan, istri almarhum Hariono, Mukholifah, sempat meminta pekerjaan kepada Wali Kota Risma. Pekerjaan yang dimintanya itu diharapkan yang dekat dengan rumahnya.

Dengan sigapnya, Wali Kota Risma langsung menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, drg. Febria Rachmanita.

Wali Kota Risma pun meminta drg Febria untuk memberikan pekerjaan kepada Mukholifah di Puskesmas Pembantu Kandangan, apabila sudah siap bekerja, mulai 1 Mei dia akan bekerja di Puskesmas Pembantu Kandangan.

“Saya mencoba membantulah, mengurangi beban keluarga ini,” kata Wali Kota Risma seusai takziah.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Risma juga berharap ada evaluasi tentang sistem penyelenggaraan pemilu serentak tahun ini.

Sebab, apabila sistemnya masih sama seperti pemilu 2019 ini, maka banyak petugas TPS yang kelelahan.

“Mungkin ada evaluasi, karena melelahkan memang kalau sistemnya masih seperti kemarin. Petugas TPS juga berat,” harapnya.

Sementara itu, istri almarhum Hariono, Mukholifah, menyampaikan terimakasih banyak atas bantuan yang diberikan oleh Wali Kota Risma dan jajaran Pemkot Surabaya. Menurutnya, memang yang paling penting adalah pendidikan kedua anaknya dan juga kebutuhan tentang pekerjaan.

“Alhamdulillah katanya Bu Risma mau dibantu pendidikan anak dan juga dikasik pekerjaan. Saya sangat bersyukur,” kata Mukholifah sambil matanya berkaca-kaca menahan air mata.

Mukholifah kemudian menceritakan kronologi meninggalnya sang suami. Ia menjelaskan bahwa almarhum Hariono mengalami kelelahan saat bertugas menjaga TPS 45 sampai dengan Kamis (18/4/2019) pukul 08.00 WIB. Setelah pulang ke rumah, Hariono mengeluh kepada istrinya seluruh badannya terasa capek karena tidak duduk atau istirahat selama berjam-jam di TPS. Almarhum yang merasa kelelahan, seketika tidur di rumah hingga malam hari. Keesokan harinya, almarhum badannya terasa sakit, kemudian dibawa ke dokter praktik oleh keluarganya.

“Kemudian pada Hari Minggu-Senin, kondisinya semakin drop dan akhirnya pada Hari Senin (22/4/2019) sekitar pukul 14. 30 WIB, almarhum meninggal dunia di rumah,” pungkasnya.

Selama dua hari berturut-turut, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersama jajarannya mengunjungi rumah keluarga petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KKPS), yang diduga meninggal usai menjalankan tugas.

Di hari kedua ini, Wali Kota Risma mengunjungi rumah almarhum Badrul Munir (52) di Jalan Kedung Baruk No. 92 Surabaya. Badrul merupakan anggota KPPS TPS 19 Kelurahan Kedung Baruk Kecamatan Rungkut Surabaya yang meninggal pada Jumat, (19/4/19) lalu.

Dalam takziah tersebut, Wali Kota Risma menyampaikan belasungkawa dan memberikan bantuan kepada keluarga almarhum. Dalam kesempatan itu, ia berdialog langsung dengan istri almarhum Budi Erni (51). putri semata wayangnya Wildatin Naila (22), untuk memberikan bantuan berupa pekerjaan di Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk Wildatin.

“Karena masalahnya berbeda, jadi treatment penyelesaiannya juga berbeda, yang paling penting sustainable nya bagaimana pun beliau (korban) sudah membantu. Nah satu persoalan sudah kita bantu, supaya beban keluarga berkurang. Saya kira ini lebih penting dari pada memberikan santunan berupa uang atau yang lain,” kata Wali Kota Risma di sela sela kunjungannya, Jum’at, (26/04/19).

Tak hanya itu, sebagai bentuk perhatian Wali Kota Risma kepada anak-anak keluarga petugas KPPS yang meninggal, ia menegaskan akan memberikan bantuan dengan treatment yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan keluarga almarhum.

“Kalau kemarin putranya Pak Naryo (Sunaryo) akan membantu beasiswa, jadi untuk kuliahnya kita tanggung sampai selesai,” tuturnya.

Dengan adanya beberapa kejadian tersebut, pihaknya mengaku ke depan akan melakukan evaluasi serta identifikasi keluhan-keluhan masyarakat, untuk selanjutnya disampaikan ke pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ia berharap ke depan supaya tidak ada lagi petugas TPS yang sakit, bahkan meninggal saat menjalankan tugas.

“Supaya ke depannya tidak terjadi hal-hal seperti ini lagi, semua keluhan akan kami sampaikan dan diidentifikasi. Ternyata semua ngeluh seberat itu,” terangnya.

Pada kesempatan itu, istri dan anak almarhum Badrul juga menceritakan dengan seksama kronologis kejadian kepada Wali Kota Risma. Dalam ceritanya, bapak satu anak tersebut mengaku kelelahan pada Rabu, (17/04) malam.

Sementara di hari Kamisnya, almarhum merasakan badannya semakin melemah. Hingga di hari Jumat, (19/04) pukul 09.00 Wib, Badrul menutup usia di angka 52 tahun.

Anak almarhum Badrul, Wildatin Naila juga menjelaskan bagaimana kondisi ayahnya saat meninggal dalam keadaan menghadap kiblat dengan tangan terlipat.
Ia menyampaikan sebelum ayahnya meninggal, seperti sudah ada tanda-tanda berpamitan dengan kerabat dan sanak-saudara

“Beberapa jam sebelum meninggal, ayah sempat kulakan bensin dulu, lalu bertemu tetangga namun tidak biasanya hanya melambaikan tangan saja, “ tutupnya.

Diketahui, empat orang petugas KPPS di Surabaya meninggal dunia diduga kelelahan usai menjalankan tugas. Adapun perinciannya adalah Sunaryo (58), Ketua KPPS TPS 13 Kelurahan Kapas Madya Baru Kecamatan Tambak Sari, Thomy Heru Siswantoro anggota KPPS TPS 19 Kelurahan Pacar Keling Kecamatan Tambak Sari, Badrul Munir anggota KPPS 19 Kelurahan Kedung Baruk Kecamatan Rungkut, dan Hariono (36) Linmas TPS 45 Kelurahan Kandangan Kecamatan Benowo.(adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *