Sarana dan Prasarana Gedung Kesenian THR Dikeluhkan Kelompok Ludruk

Juli 25, 2017
0

Surabaya,cakrawalanews.co – Kondisi sarana dan prasarana gedung kesenian Taman Hiburan Rakyat (THR) dikeluhkan Kelompok kesenian Ludruk Irama Budaya yang biasanya manggung di THR Surabaya.

Keluhan tersebut disampaikan kepada kalangan DPRD Surabaya Selasa (25/07) diruang Komisi D DPRD Surabaya.

Sekretaris Ludruk irama Budaya, Meimura saat audiensi di Komisi D mengungkapkan, bahwa pihaknya merasa sarana dan prasarana yang digunakan tidak representative lagi.

Itu merujuk dari sejumlah pementasan, banyak penontonnya yang mengeluh karena merasa tidak nyaman dengan kondisi gedungnya.

“Penonton menyampaikan toiletnya tak layak. Ketika kami akan menangani, itu kewenangan pemerintah kota,” paparnya.

Di sisi lain, menurut Meimura, pihaknya juga terbebani dengan biaya-biaya operasional lainnya yang harus ditanggung sendiri seperti listrik, air dan sebagainya.

“Soal retribusi kalau sepi kita digratiskan,” paparnya.

Sementara selama ini, menurut Meimura masyarakat yang menyaksikan kesenian rakyat “Ludruk” menginginkan tempat pertunjukkan bagus, indah dan sebagainya.

Sedangkan, kelompok kesenian ludruk, hanya memikirkan, bagaim,ana agar pertunjukkannya bagus.

Ia menegaskan, kalau ludruk menjadi destinasi wisata kota Surabaya semestinya dibuatkan tempat yang layak, karena kesenian tersebut spesifik.

“ Ada proses pelatihannya, perlu tinggal di sana, dan tidak bisa satu gedung banyak yang main disana,” paparnya.

Ia menbandingkan dengan kesenian di jepang, yang bernama Kabuki. Kesenian tersebut telah dianggap sebagai kekayaan tak benda oleh Bangsa jepang.

Sementara, kesenian Ludruk yang lahirnya awalnya dari besutan kemudian berkembang menjadi ludruk sandiwara, yang didalamnya menyajikan tari, paduan suara, lawak dan ada ceritanya kondisinya malah berbeda.
“Padahal ludruk menyuarakan pikiran rakyat, sehingga bisa ditularkan ke generasi ke generasi,” tandasnya.

Meimura mengungkapkan, kesenian ludruk Irama budaya di THR setiap tahun kedatangan peneliti dari luar negeri yang akan melakukan riset tentang kesenian tradisional ini.

“Tak kurang dari 5 – 15 orang luar negeri yang melakuakn riset. Terakhir dari UNICEF dan Australia,” ungkapnya.

Ia menyatakan, di THR tak ada perubahan apapun. Pihaknya menginginkan dikembalikan ke tempat semula, gedung ludruk di Pulo Wonokromo.

“Saya ingin dikembalikan ke tobong, di situ damai. Di sini (THR) satu minggu manggung banyak keluhan dari penonton. Tapi kami gak ingin salahkan siapapun.” Katanya.

Menanggapi keluhan seniman ludruk, Ketua Komisi D Agustin Poliana mengapresiasi aspirasi mereka soal kelayakan tempat pertunjukkan.

Pasalnya, kesenian ludruk di THR juga memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Namun memang sarana dan prasarananya tak layak, terkesan kusam dan kumuh,” katanya.

Agustin mengaku, selama ini, pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran untuk perawatan gedung THR, namun, ia tak mengetahui besarannya.

Ia berharap, pembenahan gedung di THR dilakukan, meski renovasi tersebut tak sebagus dengan rencana pembangunan gedung kesenian di tempat itu setelah kontrak dengan PT Sasana Boga, pengelola gedung THR selesai. (hdi/cn03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *