Kasus Kejahatan Seksual Anak jadi Parameter Beratnya Tantangan pada Generasi Sekarang

Juni 23, 2016
0

Surabaya, cakrawalanews.co – Situasi yang dihadapi oleh anak-anak pada generasi saat ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Dimana saat ini jauh lebih berat dibanding generasi sebelumnya.

Hal tersebut diakui oleh Psikiater Nalini Muhdi, menurutnya situasi yang dihadapi anak-anak generasi sekarang, jauh lebih berat dibandingkan anak-anak zaman dulu. Sehingga, anak-anak seolah-olah kehilangan kebahagiaannya dengan banyaknya kewajiban yang harus ia selesaikan.

Seharusnya, seperti di negara-negara maju, pengajaran anak sejak kecil, lebih ditekankan pada kognitif nya. Yakni lebih mementingkan pada proses belajar nya ketimbang hasilnya.

“Di negara maju, guru pendidikan dasar itu justru professor dan guru senior. Anak-anak diajari kognitif seperti diajak antre di tempat umum untuk menumbuhkan kesadaran agar sabar menunggu dan tidak mengambil hak orang lain atau juga menyeberang jalan di zebra cross,” ujarnya saat menghadiri Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Anak (GN-Aksa) di Graha Sawunggaling, lantai VI kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Rabu (22/6).

Karenanya, konsultan RSU Dr Soetomo ini menekankan agar para orang tua dan para guru, mampu untuk memposisikan dirinya sebaga pendengar dari anak-anak. Bukan sebaliknya. Seharusnya, orang tua dan guru tidak menempatkan dirinya dalam posisi yang lebih tinggi dari anak.

“Kita dengar mereka. Sehingga kita tahu permasalahannya mereka. Sebagai guru, juga jangan menempatkan lebih tinggi. Karena anak-anak itu little professor, apa yang mereka sampaikan itu acapkali benar. Bahkan kadang lebih cerdas dari kita,” sambung dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Dikatakan pula, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bahwa salah satu parameternya, kejadian yang mengarah pada kejahatan seksual maupun kasus trafficking anak, acapkali bermunculan di negeri ini.

“Banyak sekali godaannya anak-anak sekarang, tidak sama dengan kita dulu. Ada program televisi, gadget dan sebagainya. Ayo kita rangkul mereka. Kalau semua peduli, saya yakin anak-anak kita akan selamat dari semua godaan,” sambung Risma sapaan wali kota.

Risma lantas berpesan bahwa anak-anak di Surabaya tidak hanya perlu dibekali dengan kemampuan intelektualitas saja. Namun, perlu ada pendekatan emosional seperti sentuhan kasih sayang dan empati dalam pengasuhan anak.

“Ini gerakan bersama. Anak-anak kita bukan hanya dibekali intelektual saja. Kalau itu saja, mereka bisa menjadi orang yang jahat. Harus diberi kasih sayang dan juga empati. Ini penting untuk membentuk karakter anak,” pesannya kepada sekitar 300 guru SMP se-Surabaya bagian barat.(mnhdi/cn02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *