Bulog Jatim Sebut 110 Ton Beras Impor Bukan Untuk Jatim

Juni 23, 2016
0

Surabaya, cakrawalanews.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak akan mengambil beras impor. Pasalnya, stok beras Jawa Timur masih aman hingga Februari 2017 mendatang.

Sementara beras impor dengan total 110 ton di Perum Bulog adalah beras untuk daerah lain. Dipastikan beras tersebut tidak akan merembes ke Jatim dan Jatim lebih mengutamakan pembelian dari petani.

Kepala Perum Bulog Divre Jatim, Witono, menjelaskan, dari total 520 ribu ton beras impor yang transit ke gudang Bulog melalui Pelabuhan Tanjung Perak tersebut, kini masih tersisa 110 ribu ton. Beras impor ini bukan untuk konsumsi masyarakat Jawa Timur.

“Sisa beras impor ini untuk masyarakat di Papua, NTT, dan wilayah Sumatera. Jadi beras impor ini cuma titip saja di gudang kita,” kata Witono, Selasa (21/6).

Menurutnya, pengadaan gabah dan beras Divre Jatim mengutamakan pembelian dari petani. Jawa Timur tidak perlu impor dan masih tetap kedepankan pembelian (gabah dan beras) petani.

“Beras impor tersebut tak akan masuk ke pasar Jatim. Stok beras Jatim masih cukup sampai bulan Februari 2017 jadi tidak butuh beras impor. Untuk proses transit beras impor di Jatim, saya jamin aman,” tuturnya.

Adapun transit beras impor tersebut disimpan di gudang Banjar Kemantren Buduran Sidoarjo, Gunung Gedangan di Mojokerto, dan Kejapanan Pasuruan.

Witono menambahkan, beras impor peruntukannya bagi daerah lain yang kekurangan beras yakni untuk 21 provinsi se-Indonesia dari Aceh sampai Papua.

“Mereka tidak punya gudang. Kalau langsung dikirim kesana apa ditaruh di lapangan, kan malah rusak berasnya, jadi ditransitkan di Jawa Timur,” ungkapnya.

Namun ia menjelaskan jika penyaluran beras impor untuk wilayah Jatim bisa saja terjadi jika sampai ada kekacauan, huru-hara, bencana alam.

“Kalau pun disalurkan untuk Jatim harus seizin presiden dan gubernur,” tegasnya.

Semantara Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim, Jumadi mengatakan, untuk transit beras impor pihaknya juga melakukan upaya pengawasan. Jadi beras yang masuk bongkar di Pelabuhan Tanjung Perak, selalu tercatat dan dilaporkan pada gubernur. Bahkan, jika beras keluar gudang mau dikirim ke provinsi lain juga tetap tercatat dan dilaporkan pada gubernur.

“Jadi tidak ada peluang untuk beras impor masuk atau merembes ke pasar lokal karena kebutuhan Jatim juga masih bisa terpenuhi dari stok pengadaan Bulog Jatim,” tukasnya.(cn01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *